Rabu, 20 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Transaksi Nontunai Tumbuh, Dorong PJSP Migrasi ke QRIS

11 September 2019, 14: 29: 27 WIB | editor : Perdana

Transaksi Nontunai Tumbuh, Dorong PJSP Migrasi ke QRIS

SOLO – Bank Indonesia (BI) getol menyosialisasikan gerakan nasional nontunai (GNNT). Mengurangi transaksi tunai dan berpindah menggunakan cashless. Di Kota Solo, elektronifikasi ini dinilai sudah cukup baik. Dilihat dari beberapa fasilitas yang sudah ada. 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Surakarta Bambang Pramono mengatakan, sudah ada e-pajak, e-parkir, e-uji KIR, dan paling gres e-retribusi. Sudah berjalan di 14 pasar tradisional dari 44 unit yang ada di Kota Bengawan. Menariknya, transaksi nontunai juga melibatkan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Elektronifikasi selain memudahkan masyarakat, juga memberikan pemahaman bahwa transaksi nontunai sangat penting di era revolusi industri 4.0. “Karena perkembangan teknologi, kami mengeluarkan Quick Response Indonesia Standart (QRIS). Di mana QR atau barcode ini sebagai kanal penbayaran resmi Bank Indonesia. Banyaknya pelaku jasa sistem pembayaran (PJSP) yang mengeluarkan barcode ini tak bisa dipantau perbankan. Sehingga kamik berikan waktu PJSP migrasi ke QRIS. Agar data merchandise terkumpul di QRIS dan akan mendapatkan ID QRIS atau barcode resmi sebagai pembayaran,” jelas Bambang, kemarin (10/9). 

Dari data nasional, Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) per Juli 2019 ada 6.473.075 transaksi nontunai. Senilai Rp 74.384 triliun. Dari data tersebut, Bambang mengaku transaksi nontunai lewat transfer meningkat. Namun, BI masih merasa literasi keuangan digital kepada masyarakat perlu ditingkatkan lagi.

Terkait QRIS, akan ada aplikasi khusus untuk menghubungkan segala transaksi yang dilakukan masyarakat. Secara teknis, contohnya bank daerah bekerja sama dengan dinas pasar. Kemudian mengajukan data merchand ke BI agar dibuatkan ID QRIS.

“Kami bekerja sama dengan Asosiasi Pasar Indonesia dan BMPD (badan musyawarah perbankan daerah) serta perbankan terkait target elektronifikasi. Terdekat yang harus dibahas, yakni bantuan sosial nontunai, transaksi pemda, dan isu elektronifikasi bidang transportasi,” urai Bambang.

Maharani, 35, pengguna transaksi nontunai asal Kota Solo selama ini memanfaatkan OVO, Gopay, maupun mobile banking. Karena lebih mudah dan sederhana. Saat membayar, cukup men-scan barcode dan terbayar.

”Banyak promo yang diberikan. Kadang kan sering tidak bawa uang kecil. Kalau pakai pembayaran elentronik tinggal input nomor handphone atau scan barcode. Selesai. Gampang. Enggak ribet lagi,” ujarnya. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia