Senin, 16 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Peternak Mandiri Didorong Membuat Klaster

12 September 2019, 18: 24: 08 WIB | editor : Perdana

Asisten Deputi Peternakan dan Perikanan Kemenko Perekonomian Toni Nainggolan

Asisten Deputi Peternakan dan Perikanan Kemenko Perekonomian Toni Nainggolan

Share this      

SOLO – Harga ayam hidup di tingkat peternak terjun bebas. Karena melimpahnya stok di pasaran. Nah, mengatasi permasalahan ini sekaligus mengangkat taraf hidup peternak, pemerintah mendorong agar telur dari breeding farm atau usaha ternak ayam indukan tidak ditetaskan semua.

Komisaris PT. Charoen Pokphand Suparman menjelaskan, kebutuhan ekonomi masyarakat tidak sebanyak telur ayam dari breeding farm. Upaya pemerintah tersebut merupakan inisiatif untuk menyelamatkan perunggasan. Total jumlah telur yang dikurangi 100 juta butir. 

“Menyeimbangkan kembali harga ayam hidup, kami melakukan pengurangan penetasan telur. Telur kami bagikan gratis ke sekolah-sekolah. Salah satunya di SD Djama’atul Ichwan Solo. Termasuk dalam gerakan makan 100 juta telur,” ucapnya, kemarin (11/9).

Asisten Deputi Peternakan dan Perikanan Kemenko Perekonomian Toni Nainggolan menambahkan, beberapa waktu ada distorsi pasar. Harga ayam dari peternak Rp 8-10 ribu per kilogram (kg). Namun sampai di pasaran, harganya tembus Rp 20 ribu per kg. Dilihat dari data Kemenko, saat ini harga ayam turun jadi Rp 15-16 ribu per kg.

Toni meminta para peternak mandiri membuat klaster mandiri. Peternak mandiri diimbau berkumpul jadi satu dalam sebuah komunitas. Hadirnya klaster ini diharapkan bisa mengatasi mahalnya harga pakan ayam. Sebagai catatan, komposisi harga pakan 70 persen dari total biaya produksi. Lewat klaster ini, para peternak mandiri akan mendapatkan harga pakan lebih murah. 

“Permasalahan tidak hanya di sisi peternak saja. Tetapi ada logistik atau tata niaga yang tidak jalan. Harus ada koordinasi dan kerja sama antarpeternak. Caranya membentuk klaster. Harapannya penyediaan pakan lebih murah dan tingkat kematian ayam rendah. Di sisi lain, jagung sebagai komoditas pakan ternak juga harus dijaga. Jangan sampai menjual dengan harga tinggi,” papar Toni.

Semua sisi, lanjut Toni, wajib diseimbangkan. Artinya, petani jagung boleh mendapatkan untung. Namu, peternak ayam juga harus diuntungkan. Terkait aksi bagi-bagi telur yang dikemas dalam gerakan makan 100 juta telur, merupakan upaya menekan tingginya suplai ayam hidup. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia