Minggu, 22 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Pasar Sepi, Pedagang Kelimpungan

12 September 2019, 19: 26: 17 WIB | editor : Perdana

RAMAI: Suasana di luar Pasar Pengging yang baru di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, kemarin (11/9).

RAMAI: Suasana di luar Pasar Pengging yang baru di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, kemarin (11/9). (TRI WIDODO/RASO)

Share this      

BOYOLALI – Pemindahan Pasar Pengging ke lokasi baru di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono belum sesuai harapan. Pedagang di dalam pasar mengeluhkan sepinya pembeli. Terutama saat tiba hari pasaran Wage dan Pahing (penanggalan Jawa).

Ya, saat Wage dan Pahing, pasar baru cukup ramai. Namun hanya di jalan depan pasar. Dipenuhi pedagang musiman yang menggelar lapak di pinggir jalan. Fenomena seperti ini sudah berjalan sejak masih berada di lokasi pasar lama.

Imbasnya, pembeli justru jarang masuk ke dalam pasar yang baru. Lebih memilih membeli di area luar pasar. “Sangat sepi sekali di dalam. Lebih sering ngobrol dengan pedagang lain daripada melayani pembeli,” keluh Nur Wahidah, 56, pedagang pakaian di pasar baru Pengging.

Sudah dua bulan ini pedagang di dalam pasar mengeluh sepi. Bahkan beberapa kali pulang dengan tangan hampa. Tak ada satu pun dagangan terjual. “Hanya laku paling banyak Rp 300 ribu sehari. Padahal biasanya saat masih di pasar lama, minimal bisa laku Rp 750 ribu,” ujarnya.

Keluhan serupa diakui Semi, 64, pedagang gordin dan kasur. “Paling ya duduk-duduk saja menunggu pembeli. Memang sudah dua bulan ini sepi sekali,” bebernya.

Pedagang juga mengeluhkan biaya konpensasi pembangunan pasar. Per los pasar, dikenai biaya Rp 1,5 juta. “Saya punya empat los. Total bayar Rp 6 juta lebih. Belum saya bayar. Bagaimana mau bayar, dagangan sepi,” terangnya.

Sementara itu, Koordinator Pasar Pengging UPT Pasar Simo Agus Saptono menyatakan, pembangunan pasar baru dilakukan bertahap. Sehingga belum mampu menampung semua pedagang dari pasar lama. Sementara yang berlum tertampung terpaksa berjualan di luar pasar. “Data pedagang di luar pasar sudah ada. Tinggal nanti kalau sudah dibangun, semua pedagang masuk ke dalam,” jelasnya.

Agus membenarkan adanya biaya konpensasi pembangunan pasar. Pedagang dibebani 45 persen dari nilai pembangunan. Sehingga per losnya dikenai biaya Rp 1,5 juta, kios Rp 14 juta, dan toko Rp 21 juta. “Jumlah losnya ada 1.272 unit, took 63 unit, dan kios 146 unit,” tandasnya. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia