Senin, 16 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Tarif Umrah Naik, imbas Kenaikan Pajak Progresif

14 September 2019, 17: 02: 20 WIB | editor : Perdana

BIAYA NAIK: Jamaah haji dari Embarkasi Haji Solo saat tiba di Bandara Internasional Adi Soemarmo, belum lama ini.

BIAYA NAIK: Jamaah haji dari Embarkasi Haji Solo saat tiba di Bandara Internasional Adi Soemarmo, belum lama ini. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Pemerintah Arab Saudi sudah menaikkan tarif pajak progresif. Ini berimbas pada penyesuaian tarif umrah dan haji di Indonesia. Sejumlah biro umrah dan haji di Kota Bengawan meminta pemerintah turun tangan terkait perubahan tarif tersebut.

Owner biro perjalanan umrah dan haji Hajar Aswad Solo Retno Anugrah Andriyanti meminta pemerintah RI bernegosiasi terhadap pemerintah Arab Saudi. Agar pihak Arab Saudi meninjau kebijakan tersebut. Sebab mereka sudah memberlakukan berbagai biaya tambahan. Seperti goverment fee senilai 300 riyal, basic ground service 105 riyal, dan electronic (e-visa) processing fee real senilai 93,15 riyal. Tarif tersebut dinilai membebani para jamaah serta menyulitkan biro umrah.

“Kebijakan ini diberlakukan 9 September. Kami sudah memberikan surat pemberitahuan, bahwa semua jamaah yang telah mendaftar paket umrah maupun pembelian visa only atau LA+visa dikenakan biaya tambahan Rp 1,5 juta. Pengganti aturan bisa progresif, diberlakukan bagi jamaah yang menunaikan ibadah umrah lebih dari sekali,” jelas Retno, kemarin (13/9). 

Awalnya, tambahan biaya hanya dibebankan untuk e-visa. Pihak biro umrah bisa mengakomodasi agar jamaah tidak ada biaya tambahan. Kemudian ditambah goverment fee dan basic ground service. Tak pelak, biro umrah harus menyesuaikan harga. 

Ketua Perhimpunan Pengusaha Biro Ibadah Umrah dan Haji Indonesia (Perpuhi) Solo Her Suprabu akan mengoreksi besaran biaya umrah. Termasuk penyesuaian kebijakan pajak progresif yang diberlakukan pemerintah Arab Saudi. Total tambahan biaya yang dikenakan kepada jamaah sekitar 500 riyal atau Rp 2,3-2,5 juta. 

Nah, siapa pun yang mengajukan visa untuk perjalanan umrah, langsung dikenakan biaya tersebut. Terkait perubahan sistem visa, saat ini untuk mengurusnya, calon jamaah umrah tidak perlu datang ke Kedutaan Besar Arab Saudi di Indonesia. Cukup menggunakan sistem e-visa.

“Untuk mengajukan e-visa, pendaftar harus punya BRN (booking reservation number). Di antaranya nomor booking hotel dan bus yang akan digunakan selama di Arab. Kalau sudah diisi, baru keluar visanya. Massalahnya, banyak hotel yang biasa digunakan jamaah umrah belum terdata pada sistem e-visa. Kalau pun ada, itu hotel jaraknya jauh dari tempat ibadah,” bebernya. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia