Rabu, 16 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Features

Kiprah Komunitas Dongeng Doing Project

15 September 2019, 09: 35: 59 WIB | editor : Perdana

Kiprah Komunitas Dongeng Doing Project

Budaya mendongeng untuk anak mulai ditinggalkan seiring majunya teknologi yang memudahkan kita mencari cerita dongeng di dunia digital. Komunitas Dongeng Doing Project hadir mengajak orang tua dan guru menjaga eksistensi mendongeng.

MASIH ingat kisah Roro Jonggrang yang meminta Bandung Bondowoso membuat seribu candi dalam semalam? Atau kisah Dayang Sumbi yang jatuh cinta pada anak lelakinya, Sangkuriang? Atau kisah paling populer si kancil yang mencuri ketimun? Nampaknya, dongeng pengantar tidur tersebut kini eksistensinya mulai tergerus oleh tayangan YouTube. Apakah benar demikian?

Tren dongeng saat ini sudah mulai beragam. Jika dulu, mendongeng hanya sebatas membacakan buku cerita. Kini banyak cara dilakukan agar anak-anak tetap tertarik mendengarkan dongeng.

”Mulai dari musikalisasi dongeng, read a loud, bermain peran tokoh, pakai puppet, sampai pemutaran video dongeng. Dongeng juga udah mengikuti perkembangan zaman. Udah ada di YouTube, bahkan ada di podcast juga,” beber Koordinator Komunitas Dongeng Doing Project, Mega Herawati kepada Jawa Pos Radar Solo.

Di era yang serba digital ini, rasanya jarang melihat anak-anak mendengarkan dongeng. Anak-anak sekarang lebih banyak membuang waktu dengan bermain gadget.

”Kami ingin mengajak anak-anak kembali ke dunia mereka yang seharusnya. Dengan mengurangi intensitas mereka dalam menggunakan gadget lewat dongeng,” sambung Mega.

Dongeng sedikit banyak mempengaruhi pertumbuhan psikologis anak. Mega menyebut beberapa pengaruh positif dialami anak usai mendengar dongeng. Sebut saja, anak mulai belajar menghargai seseorang dengan mendengarkan satu cerita dari sang penutur. Anak belajar berbahasa yang baik. Sekaligus belajar bertutur yang baik.

”Dongeng juga bisa menumbuhkembangkan imajinasi dan kreativitas anak. Dan masih banyak lagi benefitnya,” imbuhnya.

Selama ini dongeng selalu identik dengan cerita pengantar tidur. Padahal dongeng tak melulu harus dibacakan sebelum anak tidur. Dongeng juga berfungsi untuk menebar nilai kebaikan, membangun imajinasi anak, dan hal-hal positif lainnya.

”Nah, kenapa orang bilang dongeng itu cerita pengantar tidur? Karena waktu sebelum tidur adalah waktu yang baik untuk membangun bonding antaranggota keluarga. Sarana bonding itulah dengan bercerita, dongeng salah satunya,” jelasnya.

Dongeng juga melekat dengan kisah khayalan. Dengan adanya unsur khayal inilah dongeng dapat membantu tumbuh kembang kreativitas lewat imajinasi anak sesuai dengan usianya. Mega dan teman-teman Doing Project selalu membawa cerita fabel sebagai tema dongeng. Meski tak jarang tokoh-tokoh manusia juga disampaikan.

”Ceritanya ringan yang penting bisa tersampaikan dengan baik. Kami sering mendongeng by group. Biasanya pakai puppet dan alat musik untuk menarik perhatian anak-anak,” ungkapnya.

Mega berharap Doing Project bisa menjadi wadah bagi para pendongeng. Memperbaiki budaya bertutur pada anak, dapat mengembangkan imajinasi, dan daya kreativitas anak sesuai usianya. Serta memberikan nilai-nilai moral positif bagi anak tanpa menggurui. Pengalaman berkesannya saat Mega dan teman-temannya mendongeng di Yayasan Lentera Solo. Mereka mendongeng di hadapan anak-anak dengan HIV/AIDS.

”Mereka aktif dan rasa ingin tahunya tinggi. Jadi ada interaksi waktu kami bercerita. Kami berharap tidak hanya berkeliling di Kota Bengawan dan sekitarnya saja. Tapi bisa berkeliling menebar nilai kebaikan lebih luas lagi ke seluruh Indonesia,” pungkasnya. (aya/adi) 

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia