Rabu, 16 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Features

Mengenang Eyang Rudy, Super-Intelligent Software

15 September 2019, 20: 44: 39 WIB | editor : Perdana

Ratusan siswa-siswi SD Joglo mengungkapkan duka cita dengan menerbangkan pesawat kertas dan membawa foto BJ Habibie beberapa waktu lalu

Ratusan siswa-siswi SD Joglo mengungkapkan duka cita dengan menerbangkan pesawat kertas dan membawa foto BJ Habibie beberapa waktu lalu (Arief Budiman)

Share this      

BACHARUDDIN Jusuf Habibie. Presiden Jokowi memberikan gelar bapak teknologi. Dahlan Iskan menyebutkan bapak kebebasan pers. Pejuang demokrasi menyebutnya bapak demokrasi. Orang Timor Leste menyanjungnya sebagai bapak hak asasi manusia.

Bagi saya, beliau adalah bapak para suami. Meminjam istilah Pak Dahlan, bos saya, dalam catatan di disway.id. Begitu besar cintanya kepada istri. Teladan untuk para suami. Saya beruntung, bisa dapat kesempatan wawancara sekaligus ngangsu kawruh begitu panjang bersama Pak Habibie.

Pada medio 2016. Ketika saya masih menjadi jurnalis Jawa Pos dulu. Menemani Andra, anak buah saya, untuk membuat liputan khusus Pak Habibie. Menjelang ulang tahun beliau ke-80 pada 25 Juni 2016.

”Panggil saya Eyang, jangan Pak Habibie,” kata beliau kepada saya di pelataran Taman Makam Pahlawan Kalibata pada 10 Juni 2016.

Saat itu jam tangan saya menunjukkan pukul 08.05. Mengenakan peci hitam, syal putih, baju koko putih, dan celana putih, dan sepatu putih, Eyang berjalan tegap masuk ke kompleks TMP. Bersama paspampres Grup D berbaju batik yang mengawalnya. Eyang lebih dulu memberikan hormat di gerbang TMP.

”Saya harus memberikan hormat lebih dulu kepada para pahlawan yang telah berjasa kepada bangsa dan rakyat republik ini,” kata Eyang.

Menjelang usia 80 tahun, langkah Eyang terbilang tegap. Tidak timik-timik. Tidak mau dituntun ajudan. Saat salah seorang ajudan hendak menuntunnya melewati genangan air di pelataran, Eyang menolaknya. ”Nggak apa-apa,” ucap beliau. ”Ayo keburu panas,” lanjutnya.

Pagi itu, Eyang memang agak terlambat datang ke Kalibata. Ajudan bilang Eyang agak kesiangan. Setelah sahur dan shalat subuh ketiduran. Biasanya, seperti jumat-jumat sebelumnya, Eyang sudah tiba di Kalibata pada pukul tujuh pagi.

Sejak Ibu Hasri Ainun Habibie meninggal pada 22 Mei 2010, pergi ke Kalibata pada Jumat pagi menjadi rutinitas Eyang. Kalau tidak di luar negeri atau sakit, tidak pernah beliau absen. Meski saat itu sudah enam tahun. Artinya, sudah sekitar 300-an kali Eyang nyekar ke pusara Ibu Ainun.

Dari gerbang, Eyang berjalan lurus. Lalu belok kanan, menuju pusara Ibu Ainun yang ada di kavling 121. Di sana sudah dijejer beberapa dingklik plastik. Plus dingklik rotan yang disiapkan khusus untuk Eyang. Makam Ibu Ainun berdekatan dengan makam Jenderal A.H Nasution dan Wakil Presiden Sudharmono.

”Ini kavling 120, kelak saya ayang dimakamkan di sini, persis di samping Ainun,” kata Eyang sebelum mengalungkan tasbih di nisan makam Ibu Ainun, lalu duduk di dingklik.

Tasbih berwarna coklat itu Eyang bawa sejak dari rumah. Dikalungkan. Tasbih itu menurut Eyang juga digunakan ketika setiap malam beliau memanjatkan tahlil dan surat yasin untuk Ibu Ainun. Enam atau tujuh orang menyertai Eyang membaca tahlil dan surat Yasin di pusara Ibu Ainun pagi itu. Termasuk saya dan rekan saya. Kecuali kami, semuanya adalah anggota paspampres, baik yang aktif maupun yang sudah purna. Sejumlah paspampres semasa Pak Habibie menjadi wakil presiden dan presiden, memang terus diminta untuk menemani Eyang. Meski mereka sudah pensiun dari TNI. Selesai membaca tahlil dan surat Yasin. Eyang lalu membaca puisi. Berjudul Manunggal.

Manunggal

Sudah 6 tahun 19 hari Ainun pindah ke dimensi dan keadaan berbeda Lingkunganmu Ainun, kemampuanmu dan kebutuhanmu pula berbeda. Karena cinta kita murni, suci, sejati, sempurna, dan abadi tak berbeda. Kita tetap manunggal, menyatu, dan tak berbeda sepanjang masa. Ragamu di Taman Pahlawan bersama para pahlawan bangsa lainnya. Jiwa, roh, dan nuranimu telah menyatu dengan saya. Di mana ada Ainun ada Habibie, di mana ada Habibie ada Ainun. Tetap manunggal dan menyatu dan tak terpisahkan lagi sepanjang masa. Titipan Allah bibit cinta Ilahi pada tiap insan kehidupan di mana pun. Sesuai keinginan dan kehendak-Mu Allah. Kami siram dengan kasih sayang dan cinta pada-Mu Allah. Kami siram dengan nilai iman, takwa, dan budaya yang engkau berikan. Murni, suci, sejati, sempurna, dan abadi sepanjang masa. Allah, lindungi kami dari segala godaan, gangguan yang mencemari cinta kami.  Perekat Ainun dan saya menyatu, manunggal jiwa, roh, batin, dan nurani kami.  Di mana pun, dalam keadaan apa pun, kami tetap tak terpisahkan lagi. Seribu hari, seribu tahun, seribu juta tahun... manunggal... sampai akhirat!

Eyang membaca puisi itu sambil menitikkan air matanya. Air mata cinta yang tak pernah kering untuk sang belahan jiwa. Jumlah hari sejak Ibu Ainun meninggal pun selalu diingat Eyang. Puisi Manunggal selalu dibaca setiap kali ziarah. Isinya sama. Hanya jumlah harinya yang berbeda. Sekitar pukul sembilan, ziarah di pusara Ibu AInun selesai.

Eyang dan rombongan paspampres lalu bergeser ke pemakaman Tanah Kusir. Di sana kedua orang tua Eyang dimakamkam. Sama, di sana eyang membaca tahlil dan surat Yasin. Juga mengalungkan tasbih ke nisan pusara Ayahnya. Bedanya, di Tanah Kusir sejumlah warga dan petugas makam ikut berdoa. Setelah berdoa, Eyang membagikan uang pecahan Rp 50 ribu. Saya sempat menolak menerima uang tersebut. Namun, seorang anggota paspampres memerintahkan saya untuk menerimanya. ”Eyang sedih kalau ada yang tidak mau menerima,” ucap paspampres berkulit putih itu.

Setelah itu, Eyang mulai bercerita kepada saya. ”Eyang cerita disini saja ya,” kata beliau disamping pusara ayahnya. Eyang memulai cerita tentang pakaiannya pagi itu. Syal berwarna putih itu punya Ibu Ainun. ”Malam-malam selalu saya bawa ke bantal untuk menemani saya tidur. Jadi, saya tidak pernah merasa sendiri," tuturnya. Tidak hanya syal, baju dan celana merupakan pilihan Ibu Ainun semasa hidup.

Eyang lalu bercerita tentang cintanya yang tidak akan pernah mati. Pernikahannya dengan Ibu Ainun pada 12 Mei 1962 melebihi cinta sejati. ”Cinta sejati itu bisa dipisahkan oleh maut. Tapi, cinta saya dan Ainun tidak bisa dipisahkan maut,” katanya dengan sorot mata tajam. ”Cinta kami cinta Ilahi,” tegasnya. Eyang menegaskan, Ibu Ainun, ayah-ibu, maupun orang yang meninggal lainnya sejatinya tetap ada. Hanya dimensinya saja yang berbeda.

Perbedaan dimensi itu membuat kondisi manusia yang telah wafat itu berbeda. Tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar suaranya, makan dan minumannya pun berbeda. Doa, menurut Eyang adalah kuantum energi yang bisa memberikan kekuatan. ”Doa itulah makanan untuk Ainun dan ayah-ibu saya. Dengan berdoa, saya yakin saya kasih (mereka, Red) makan," ujarnya.

Pemikiran bahwa orang yang meninggal pindah dimensi itulah, yang membuat Eyang selalu merasa bersama Ibu Ainun Ketika masih di dimensi yang sama, Eyang menceritakan bahwa Ibu Ainun dan dirinya berkomitmen tidak saling meninggalkan. Saat Ibu Ainun meninggal, yang pergi adalah hanya hardware-nya. Raganya. ”Hardware manusia menempel di dinding rahim ibunya ketika dia berada dalam kandungan. Lalu Allah meniupkan super-intelligent software. Ketika meninggal, super-intelligent software itu ke dimensi lain, meninggalkan hardware,” jelas Eyang tentang kehidupan manusia.

”Saya berpendapat jenazah ini hardware. Saya yakin super-intelligent software Ainun sudah di-download ke dalam diri saya," lanjutnya sambil menunjuk dada. Super-intelligent software Eyang dan Ibu Ainun kita telah manunggal di dimensi yang sama. Di tempat terindah. Insyallah. (*)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia