Rabu, 16 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Menelusuri Kampung Bebas Asap Rokok di Kota Solo

16 September 2019, 10: 53: 02 WIB | editor : Perdana

Menelusuri Kampung Bebas Asap Rokok di Kota Solo

Peraturan daerah (perda) yang mengatur soal kawasan tanpa rokok sudah disahkan. Ini merupakan salah satu upaya mewujudkan masyarakat hidup sehat. Lantas seperti apa upaya masyarakat dan pemerintah dalam menerapkan aturan ini?

RINTISAN kawasan bebas rokok di Kota Solo sebenarnya sudah ada. Wujudnya berupa  “Kampung Bebas Asap Rokok”. Salah satunya di Kampung Purbowardayan RW 02 Kelurahan Tegalharjo, Kecamatan Jebres. Di kampung ini hampir tak ada puntung rokok tercecer di jalan. Tentu ini hasil kerja keras warga setempat yang konsisten dalam mewujudkan kampung mereka bebas asap rokok. “Pencanangannya baru 2018. Tapi inisiatif ini sebenarnya sudah lama,” jelas Ketua RW 02 Tegalharjo, Bhenny Budiatno, 60.

Keinginan warga hidup sehat menjadi faktor utama terealisasinya program tersebut. Bertahun-tahun, Kampung Purbowardayan menjadi salah satu kampung yang paling banyak warganya menderita sakit. Bahkan bisa disebut sebagai kampung paling tidak sehat. Dari sana perbaikan kesehatan masyarakat dengan pola bersih lingkungan dan rumah tinggal mulai diterapkan. Puncaknya, pada 2018 kampung ini dicanangkan bebas asap rokok.

 “Awal perjuangannya memang agak sulit. Banyak warga masih merokok. Tapi perlu diketahui bahwa hak tersebut bukannya tanpa batasan. Sebab, ada hak orang lain untuk menghirup udara bersih di dalamnya. Ini yang kami tekankan,” jelas dia.

Sosialisasi pun mulai dilakukan. Awalnya, Bhenny menggandeng sejumlah anggota forum anak setempat ikut sosialisasi. Materinya pun simpel. Anak jangan mau jika diminta orang dewasa membeli rokok di warung. Lalu bagaimana jika si anak kena marah? Bhenny siap mendampingi menghadap si orang tua bocah. 

“Anak-anak saya minta lapor sama saya kalau dimarah orang tuanya saat menolak beli rokok. Nanti saya marahi balik,” kelakar dia.

Konsep ini mulai berbuah manis. Orang tua mulai sungkan meminta anak masing-masing membelikan rokok di warung. Kesadaran pun makin tumbuh. Warga kini tak berani merokok dalam setiap pertemuan lingkungan. Bahkan, gedung pertemuan warga pun kini bebas dari wangi asap tembakau kering yang dibakar. 

“Mulai dari sana rapat dan pertemuan lingkungan pun mulai disepakati tanpa rokok. Ini karena kerelaan warga untuk tidak merokok sembarangan. Toh, sudah ada sudut rokok yang bisa dimanfaatkan siapa saja jika ingin merokok,” jelas dia.

Larangan ini bukan berarti mereka tidak boleh total merokok. Di kampung ini, ada smoking area. Para perokok bisa datang ke sudut jalan mati di kampung setempat. Di sudut rokok inilah, warga bebas menghisap lintingan tembakau masing-masing. 

Warga pun sadar, mereka harus menghargai orang lain  yang tidak merokok. “Hanya di sudut itu warga kampung boleh merokok. Ini semua karena kesepakatan tak boleh merokok di dalam rumah, khususnya di depan anak dan ibu hamil,” jelas Bhenny.

Koran ini pun sempat berbincang dengan sejumlah perokok di sudut kampung itu. Para perokok aktif ini rela beranjak dari kediaman masing-masing hanya demi menyalakan rokok. Tak jarang, ada warga yang rela mengeluarkan sepeda motornya menuju sudut rokok itu lantaran kediamannya cukup jauh dari lokasi itu. Meski perokok aktif terhitung masih banyak, warga lega karena lingkungan sekitar jadi lebih asri. 

“Kalau warga sini mau merokok pasti datang ke sini. Bahkan kawan saya kalau lagi ingin merokok saya ajak kemari,” ujar pemuda kampung setempat, Mudiyono Saputro, 31.

Adanya sudut rokok itu terasa mampu menyeterilkan lingkungan dari polusi rokok dan menjaga agar udara di sekitar tetap baik. Terlebih di sudut rokok itu dikelilingi dengan pepohonan rindang yang selalu menyuplai oksigen dengan baik. “Efek paling kentara itu ya puntung rokok tidak berserakan dimana-mana,” tutup dia.

Selain Kampung Purwowardayan, kampung bebas asap rokok ini juga muncul di RW 09 Kelurahan Karangasem, Laweyan; RW 03 Kelurahan Danukusuman dan RW 09 Kelurahan Pasar Kliwon, Kecamatan Pasar Kliwon. Kemudian RW 19 Kelurahan Mojosongo, Jebres, dan RW 01 Kelurahan Timuran, Banjarsari. 

Kelima kampung ini pun merangsang sejumlah kampung lainnya untuk menjalankan program serupa. Alhasil 2018 kemarin lima kampung lainnya kembali mendeklarasikan diri seperti di RW 03 Kelurahan Kratonan, Serengan: RW 19 Kelurahan Jebres dan RW 31 Kelurahan Mojosongo, Jebre; RW 01 Kelurahan Kestalan, serta RW 02 dan 06 dari Kelurahan Tegalharjo, Banjarsari. 

“Masyarakat di lingkungan masing-masing mulai peduli dengan kesehatan hidup sendiri. Ini yang mendorong warga menjalankan program tersebut,” ujar Direktur Yayasan Kepedulian Untuk Anak (KAKAK) Shoim Sahriyati.

Dia mengapresiasi sejumlah kampung yang sudah mendeklarasikan bebas asap rokok. Mengingat aturan itu sudah terikat dalam perda baru. Masyarakat harus bisa menyesuaikan bagaimana penerapan atau implementasi perda tersebut di lingkungan sekitar. 

“Masyarakat jangan hanya patuh di lingkungan masing-masing, tapi di mana saja. Intinya semua harus terlibat dan saling mengawasi dan koreksi,” tutur Shoim. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia