Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Beras Murah Diserbu Warga

16 September 2019, 15: 44: 33 WIB | editor : Perdana

SEMBAKO: Masyarakat antre membeli beras Bazar Pangan Murah di halaman kantor Dinas Pangan Sukoharjo, Jumat (13/9).

SEMBAKO: Masyarakat antre membeli beras Bazar Pangan Murah di halaman kantor Dinas Pangan Sukoharjo, Jumat (13/9). (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Dinas Pangan Sukoharjo gencar mengembangkan produk lokal. Salah satunya beras murah dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sukoharjo. Beras dijual Rp 8.800 per kilogram (kg). Pada Bazar Pangan Murah di halaman kantor Dinas Pangan Sukoharjo, Jumat (13/9).

Tak hanya beras murah, juga dijual puluhan produk lokal binaan kelompok wanita tani. Mulai dari olahan pangan mentah dan jadi, sayur-sayuran, dan lainnya.

“Semua produk diambil dari Toko Tani Indonesia (TTI). Beras murah ini program pemerintah untuk menstabilkan harga dan mengangkat perekonomian rakyat,” jelas Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Pangan Sukoharjo Ade Miftah.

TTI berfungsi membantu pemasaran hasil produk gapoktan. “Ini salah satu strategi branding beras lokal. Harganya murah dan kualitas baik. Kami kenalkan beras lokal dengan mencantumkan nama daerah penghasil beras,” bebernya.

Bazar Pangan Murah ini tak pelak diserbu masyarakat. Namun, pembelian beras dibatasi. Maksimal lima sak ukuran 5 kg. “Takutnya jika tidak dibatasi, langsung beli banyak dan dijual lagi. Kan beras ini memang diperuntukan bagi warga kurang mampu,” urainya.

Rasa beras lokal Sukoharjo tidak kalah enaknya dengan daerah lain. Varietasnya beraneka ragam. Ada IR 64, membramo, mentik wangi. dan lainnya.

“Ada sembilan gapoktan di Sukoharjo dengan modal Rp 160 juta. Rinciannya Rp 100 juta untuk modal yang diberikan satu kali dan Rp 60 juta untuk biaya operasional yang diberikan selama tiga tahun," paparnya.

Sementara itu, pola permodalan yang diberikan Dinas Pangan Sukoharjo tahun ini berubah. Diganti dengan mesin rice milling unit (RMU). Nilai bantuannya sama, yakni Rp 60 juta.

“Kenapa kami ganti RMU? Agar ketika petani tidak operasi masa panen padi, alat tersebut bisa disewakan. Tahun ini ada tiga gapoktan yang kami beri alat RMU. Yakni Desa Geneng, Kecamatan Gatak; Desa Toriyo, Kecamatan Bendosari; dan Desa Serut, Kecamatan Nguter,” tandasnya. (rgl/fer)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia