Rabu, 16 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Wahyu Kliyu Jadi Ikon Budaya Jatipuro

16 September 2019, 15: 53: 44 WIB | editor : Perdana

MERIAH: Ratusan warga memperebutkan apem dalam tradisi Wahyu Kliyu di Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro, Karanganyar, Sabtu (14/9).

MERIAH: Ratusan warga memperebutkan apem dalam tradisi Wahyu Kliyu di Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro, Karanganyar, Sabtu (14/9). (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)

Share this      

KARANGANYAR – Upacara Wahyu Kliyu di Dusun Kendal, Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro akan dijadikan sebagai ikon budaya masyarakat Kecamatan Jatipuro. Adat istiadat ini akan terus digelar rutin setiap tahunnya.

Camat Jatipuro, Eko Budi Hartoyo mengungkapkan, tradisi Wahyu Kliyu tahun ini dikemas dengan acara yang berbeda. Tidak hanya doa bersama di pelataran rumah salah stau tokoh masyarakat setempat, tetapi juga diikuti berbagai kirab budaya.

Upacara ini diperingati setiap tanggal 15 sasi Sura atau 15 Muharam. Tahun ini jatuh pada Sabtu (14/9). Ada bermacam kegiatan mulai dari kirab budaya yang diikuti pelajar, tokoh organisasi dan masyarakat, pemerintah desa. Lalu pentas seni kebudayaan seniman – seniman atau tokoh budayawan Jatipuro.

”Kirab dan Wahyu Kliyu dikemas sebagai tujuan wisata budaya adat tradisi. Nanti ekonomi serta kesejahteraan masyarakat akan bergeliat,” terang Eko.

Bupati – Wakil Bupati Karanganyar, Juliyatmono – Rober Christanto turut hadir dalam acara tersebut. Hadir pula ketua DPRD sementara Bagus Selo, serta jajaran Forkompimda Kabupaten Karanganyar.

Bupati megatakan, tradisi Wahyu Kliyu disimbolkan dengan melempar makanan apem yang dibuat oleh masyarakat. Acara ini simbol saling memaafkan, hidup guyup rukun bersama – sama.

”Ini simbol kekuatan, baik untuk mencari rezeki ataupun kekuatan dalam hidup bermasyarakat, bangun desa bersama – sama dengan pemerintah kabupaten, karena kekuatan untuk saling bergotong royong itu ada di desa,” tegas Bupati.

Asal mula kata Wahyu Kliyu adalah kalimat "Yaa Hayyu, Ya Qoyyum". Yang merupakan kalimat pujian terhadap Allah SWT. Lantaran masyarakat Jawa saat itu sulit mengucapkannya, jadilah "wahyu kliyu".

Kisah itu muncul saat zaman Raden Mas Said yang memimpin Mangkunegaran. Dusun Kendal dilanda bencana kekeringan. Tanah merekah selebar 344 lawe (centimeter). Itu karena warga lupa bersedekah kepada bumi. Sesepuh dusun sowan ke Mangkunegaran meminta saran. Diminta mengadakan kenduri apem. (rud/adi)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia