Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sepak Bola

Gabungan Pemain Solo-Jogja Tumbangkan NIVB 

17 September 2019, 10: 18: 10 WIB | editor : Perdana

Gabungan Pemain Solo-Jogja Tumbangkan NIVB 

PERNAH dengar pemain terbaik dari Kota Solo dan Jogja bersepakat bergabung dalam satu tim yang sama untuk mengikuti sebuah kejuaraan, ternyata sempat terjadi. Kejadian itu terjadi sebelum Indonesia merdeka, tepatnya di tahun 1935. 

Koran berbahasa Belanda Soerabaijasch Handelsblad terbitan 23 April 1935 menjelaskan bahwa tim ini menggunakan nama Vorstenlandsche yang identik dengan nama kepanjangan VVB (Nama awal Persis). Menariknya pemainnya bukan berasal dari bond Persis maupun dengan PSIM Jogja. Pemain yang bermain di tim ini bermain di kompetisi milik Belanda, yakni NIVB. Pemain dari Solo walau beberapa adalah pribumi, mereka bermain bukan untuk Persis, melainkan bond VBS.

Di tahun 1935 perpecahan di organisasi NIVB (PSSI-nya Belanda) sudah muncul, hingga akhirnya muncul organisasi tandingan bernama NIVU. Bulan Juli 1935, NIVB akhirnya dinyatakan bubar. Mei 1936, FIFA akhirnya mengakui NIVU sebagai organisasi resmi satu-satunya yang ada di Hindia Belanda. Bisa dibilang sebuah turnamen untuk perayaan paskah di Surabaya dan Malang pada tanggal 19-21 April 1935, jadi sebuah turnamen terakhir yang dibentuk oleh NIVB.

Pesertanya pun berasal dari berbagai kota anggota NIVB yang tersisa, yakni Surabaya, Malang, Vorstenlandsche hingga tim NIVB sendiri. Kejuaraan digelar Surabaya dan Malang.

Sosok seperti Soemarno, Siswanto, hingga Wisman yang aktif bermain untuk Persis maupun VBS di dekade 1935-1937, jadi kekuatan tim Vorstenlandsche di turnamen ini. Selain itu dua pemain asal Belanda juga diketahui ikut bergabung, yakni De Groot (gelandang) dan bek asal Jogja bernama De Jong. Bahkan Pattiwael yang dikenal sebagai salah satu penggawa Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 turut bergabung dengan tim Vorstenlanden.

Nama lain yang ikut jadi pemain di tim ini adalah dua kiper Boen Tong dan Ahmad Abdat, lalu ada nama lainya seperi Soeparman, Soeparso, Soemarso, Soetarso, Soekarso, Soesiswo, Masimin, hingga bergabungnya sosok Slamet Ngalim yang sempat membawa PSIM juara kompetisi PSSI di tahun 1932.

Jika bicara hasil, Vorstenlandsche sukses membuat kejutan. Hari pertama (19/4/1935) di Surabaya, Vorstenlandsche sukses mengandaskan tuan rumah dengan skor tipis 2-1. Kejutan muncul, saat di hari kedua Vorstenlandsche menang atas timnas NIVB 3-2. Sayang di hari ketiga (20/4/1935), Malang menang atas Vorstenlandsche (1-0) lewat gol Schuurmans.

Sementara itu tim NIVB dipastikan sukses menjadi juara dengan kemenangan 4-1 kala bertemu Surabaya. Dari segi catatan poin, NIVB dan Vorstenlanden sama-sama meraih poin yang sama yakni lima, dari hasil dua kali menang dan sekali kalah. Sayang Vorstenlandsche harus puas berada di tempat kedua karena kalah produktivitas gol. 

Sebagai hari perpisahan (22/4/1935), digelar sebuah pertandingan tambahan. Di mana Vorstenlandsche melawan pemain tionghoa dari klub NIVB, dan Malang melawan Surabaya. Karenaba banyak pemain kelelahan Vorstenlandsche melakukan perombakan komposisi pemain. 

Pemain asal klub Romeo yakni Siswanto dan Wisman diistirahatkan untuk digantikan oleh Moljadi dan V.D Steeg. Tim Tionghoa NIVB diantaranya adalah adanya sosok kiper Mo Hing, bek Bian Bo, hingga striker handal Giok Tjioe di dalamnya. Sayangnya Vorstenlandsche kalah 1-3 di laga ini. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia