Minggu, 20 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Seminar ITS PKU Solo, Bedah Stunting dan Bayi Tabung

17 September 2019, 10: 41: 52 WIB | editor : Perdana

KUPAS TUNTAS: Seminar ITS PKU Surakarta hadirkan pakar berkompeten, Sabtu (14/9). 

KUPAS TUNTAS: Seminar ITS PKU Surakarta hadirkan pakar berkompeten, Sabtu (14/9). 

Share this      

SOLO – Stunting dan kontroversi bayi tabung dilihat dari prespektif Islam menjadi tema hangat seminar yang digelar Institut Teknologi Sains dan Kesehatan (ITS) PKU Surakarta di Hotel Megaland, Sabtu (14/09).

Kegiatan tersebut diikuti kurang lebih 800 peserta dari kalangan mahasiswa, tenaga medis dan masyarakat umum.

Rektor ITS PKU Surakarta Weni Hastuti menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan implementasi hibah untuk UKM (BEM) dari LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah terhadap ITS PKU Surakarta.

”Saya berharap seminar ini bukan sekadar diskusi interaktif atau wacana. Namun dapat menjadi rekomendasi dan soluai terhadap masalah kesehatan di Indonesia,” terangnya.

Narasumber seminar H.Subari dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta menuturkan, bayi tabung sebagai solusi bagi pasangan yang kesulitan mendapatkan momongan. Sesuai risalah, Islam sangat menghargai kemajuan teknologi untuk menjembataninya.

”Konsep fiqih yang dilahirkan Imam Syafi’i dimana maslahah keturunan syariatnya adalah dalam bingkai pernikahan. Menjaga kemurnian keturunan. Prinsipnya, selama ovum dan sperma dari pasangan suami istri diperbolehkan. Tujuannya adalah tidak mengacaukan kewarisan di kemudian hari. Itupun harus ada pada rahim istri,” jelasnya.

Terpisah, Dr. Eriana Meliawati Sp. OG (k) mengatakan, stunting dan kotroversi bayi tabung merupakan dua isu yang cukup hangat karena menyangkut generasi penerus bangsa. ”Dalam catatan Unicef, sekitar 178 juta anak di seluruh dunia mengalami stunting,” kata dia.

Stunting merupakan kekurangan gizi yang kronis. Ditandai pertumbuhan otak yang lambat dengan tinggi tubuh lebih rendah dibandingkan rata-rata bayi pada umumnya. Stunting masih bisa di atasi selama usianya belum lebih dari dua tahun. Jika melebihi itu sudah sangat sulit. (rls/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia