Minggu, 20 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Features

Endah Sudalmilah, Ciptakan Edugame Berbasis Augmented Reality 

18 September 2019, 07: 15: 59 WIB | editor : Perdana

TEROBOSAN: Siswa sedang praktik edugame berbasis augmented reality. 

TEROBOSAN: Siswa sedang praktik edugame berbasis augmented reality.  (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

Lahir dan tumbuh di era digital membuat anak-anak tidak asing mengoperasikan teknologi. Terkhusus siswa sekolah dasar (SD) perlu edukasi agar mereka tidak salah arah. Menangkap fenomena tersebut, Endah Sudalmilah menciptakan Edugame. Yakni, game adukasi berbasis augmented reality (AR). 

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo

BELAJAR sambil bermain game tentu lebih menyenangkan. Tidak hanya membuat suasana lebih cair, namun pelajaran pun lebih mudah di cerna. Inilah motivasi Endah Sudalmilah menciptakan Edugame.  

Literasi game tersebut dibagi menjadi dua bagian. Dilaksanakan dalam waktu bersamaan, yakni bagi siswa dan guru. Total ada 25 guru dan 100 siswa mulai dari kelas 4-6 ikut serta pada kegiatan ini. Untuk siswa edukasi yang diberikan adalah game AR tari dan gamelan. Sedangkan guru, edukasi game mobile legend dan PUBG.

Target yang dibidik yakni bisa terbentuk suatu pengetahuan digital literasi pada guru agar ditularkan kepada para siswanya. Sebab, di era digital itu bagaimana guru bisa menyikapi teknologi agar menjadi bermanfaat.

“Kemudian target bagi siswa yang ingin dicapai yaitu agar mereka bisa paham bahwa ternyata game itu tidak hanya untuk bersenang-senang, melainkan bisa menjadi sarana belajar,” ujar Endah.

Endah menyebut AR tari dan gamelan adalah hasil karya dari mahasiswa Teknik Informatika Nurul Ustia dan Doni Bakhtiar. Nurul Ustia membuat game AR tari dan Doni Bakhtiar membuat game AR gamelan.

Nurul butuh waktu enam bulan dalam menyelesaikan game tersebut. Sedangkan Bakhtiar butuh waktu empat sampai lima bulan menyelesaikan game ini. Kedua game ini saling berhubungan karena sama-sama mengangkat seni tradisional. 

Dalam game 3D tersebut, pengguna tinggal membuka aplikasinya dan mengarahkan layar ponselnya pada kertas yang sudah disediakan. “Pengguna tinggal memilih tari maupun gamelan apa yang ingin dimainkan. Dalam waktu sekejap tari-tarian tradisional yang dipilih pun langsung tampil di layar smartphone dalam bentuk animasi 3D, begitu juga dengan AR gamelan,” kata Nurul.

Menariknya melalui dua game ini bisa segera diketahui seperti apa gerakan-gerakan irama tari-tari tradisional seperti Tari Gantar dari Kalimantan, Tari Kecak dari Bali, Tari Sajojo dari Papua, dan Tari Tor-Tor dari Sumatra dan Tari Gambyong dari Jawa Tengah.

“Selain itu, pengguna juga bisa belajar seperti apa bunyi dan cara memainkan alat-alat gamelan, misalnya kendang, gong, saron, demung, peking, gambang, bonang, kempul, dan kenong. Game ini sudah diuji coba di bersama siswa MI (madrasah ibtidaiyah),” sambungnya.

Salah seorang peserta siswa kelas 5 M Farrel mengaku gembira bermain game tersebut. Menurutnya, dia bisa langsung belajar tari-tarian tradisional sekaligus gamelan. “Waktu saya bermain game AR tari dan gamelan itu saya rasanya senang banget. Bisa belajar dengan mudah. Padahal aku belajar dua hal, ada tarian dan gamelan. Tapi aku tidak merasa kesulitan,” ujarnya. (*)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia