Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Langgar Perlintasan Kereta Api,Disanksi Nyanyi Lagu Nasional & Push Up

19 September 2019, 12: 25: 59 WIB | editor : Perdana

Pelanggar lalu lintas di perlintasan kereta api Pasang Nongko disanksi push up

Pelanggar lalu lintas di perlintasan kereta api Pasang Nongko disanksi push up (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Perlintasan sebidang kereta api (KA) merupakan salah satu titik rawan kecelakaan. Mayoritas disebabkan kelalaian pengguna jalan. Nekat menerobos rambu-rambu dan palang perlintasan KA.

Menanggapi hal tersebut, PT KAI Daop 6 Jogjakarta menggalakkan sosialisasi, kemarin (18/9). Bertujuan menggugah kesadaran masyarakat terhadap undang-undang serta peraturan lalu lintas KA. Manajer Humas PT KAI Daop 6 Jogjakarta Eko Budiyanto mengaku di Kota Solo, ada tiga titik perlintasan sebidang yang jadi sasaran sosialisasi.

Meliputi jalan pintu perlintasan (JPL) 116 di Jalan Letjen S. Parman (Gilingan), JPL 99 Jalan Slamet Riyadi (Purwosari), dan JPL 94 Jalan RM Said Surakarta (Pasar Nongko). Sosialisasi menggandeng kepolisian, dinas perhubungan, serta pemerintah kota (pemkot) setempat. Tak sekadar sosialisasi, juga dilakukan pengakan hukum bagi pengendara yang kedapatan menerobos palang pintu perlintasan.

“Tadi (kemarin) di JPL Pasar Nongko ada beberapa yang kami hukum. Sifatnya bukan tindakan kasar. Cuma dihukum menyanyikan lagu kebangsaan bagi perempuan dan push-up bagi laki-laki. Dan ternyata cukup banyak yang tertangkap,” beber Eko.

Ironisnya, mayoritas pelanggar tidak mengenakan helm. “Sosialiasi ini juga terkait keselamatan perjalanan KA, termasuk keselamatan masyarakat. Mengurangi tindakan-tindakan fandalisme, termasuk yang selfie di jalur perlintasan. Sangat berbahaya dan ada undang-undangnya. Bisa dihukum,” tegas Eko.

Diakui Eko, terjadi peningkatan angka kecelakaan di perlintasan sebidang KA. Seiring bertambahnya volume kendaraan yang melintas. Meminimalkan angka tersebut, sejauh ini PT KAI Daop 6 Jogjakarta sudah menutup 63 perlintasan sejak Januari 2018 hingga Juni 2019. Dan terus bertambah hingga akhir tahun. 

Masih ada 445 perlintasan aktif. 120 di antaranya perlintasan yang dijaga petugas. Sisanya 240 perlintasan tanpa penjaga, 58 perlintasan tidak resmi, serta 27 perlintasan tidak sebidang. Baik flyover maupun underpass.

“Semua tertuang dalam UU No. 22 Tahun 2009 Pasal 114 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Ini sudah jelas dan diharapkan masyarakat semakin sadar akan hal ini,” tandasnya. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia