Rabu, 16 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Gibran Bakal Diserang Stigma soal Politik Dinasti, Tunggu 5 Tahun Lagi

19 September 2019, 22: 19: 52 WIB | editor : Perdana

Pakar hukum tata negara UNS Agus Riwanto

Pakar hukum tata negara UNS Agus Riwanto

Share this      

SOLO - Kedatangan Gibran Rakabuming Raka ke rumah dinas Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo pada Rabu (18/9), tak bisa dianggap sebagai silaturahmi biasa. Apalagi kunjungan itu dilakukan dua hari setelah pasangan Achmad Purnomo-Teguh Prakoso mendaftarkan diri sebagai bakal calon wali kota-wakil wali kota di DPC PDIP Solo.

Pengamat hukum dan politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Agus Riwanto mengatakan, pertemuan antara Gibran dan Rudy tidak mungkin hanya silaturahmi semata. Pasti ada pembicaraan politik di baliknya. Itu mengingat Rudy juga menjabat sebagai ketua DPC PDIP Solo.

"Memang Gibran belum ngomong langsung. Namun, muncul pernyataan Pak Rudy kalau kedatangan Gibran untuk mempertanyakan mekanisme pendaftaran. Padahal kita tahu PDIP akan mengajukan nama Achmad Purnomo dan Teguh Prakoso sebagai bakal calon," kata Agus kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (19/9).

Menurut dia, kedatangan Gibran juga bisa diartikan sebagai strategi. Yakni guna menggali informasi apakah putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu masih punya kesempatan untuk mendaftarkan diri sebagai bakal calon lewat PDIP. Atau mungkin dia harus pindah haluan lewat partai koalisi atau malah jalur independen. 

"Jadi sekarang tinggal menunggu pernyataan resmi dari Gibran," papar dia.

Lebih lanjut dikatakan Agus, di atas kertas mungkin Gibran bisa menang. Itu mengingat Gibran punya modal popularitas, mewakili anak muda, dan punya komunikasi baik. 

"Tapi, pertanyaan berikutnya apakah itu semua bisa jadi jaminan. Karena perilaku pemilih Solo itu sulit ditebak. Bisa saja diprediksi menang, tapi saat hari H malah tidak," beber Agus.

Belum lagi Gibran harus siap menerima stigma dari masyarakat jika dia hanya pelaku politik dinasti. Dia hanya memanfaatkan kebesaran nama sang ayah sebagai presiden.

Untuk itu, Agus menyarankan agar Gibran berpikir ulang sebelum memutuskan untuk mendafarkan diri sebagai bakal calon. "Kalau toh benar mau (mencalonkan diri), sebaiknya menunggu Jokowi tidak menjabat lagi. Pasti stigma di masyarakat akan berubah. Gibran bisa berdiri di atas kakinya sendiri," pungkas Agus. (atn/ria)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia