Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Golkar Merapat ke PDIP, Ajukan Yoga Dampingi Sri Mulyani

20 September 2019, 11: 50: 59 WIB | editor : Perdana

Ketua DPD II Golkar Yoga Hardaya menyerahkan SK berkoalisi kepada Ketua DPC PDIP Klaten Sri Mulyani di Kantor DPC PDIP Klaten

Ketua DPD II Golkar Yoga Hardaya menyerahkan SK berkoalisi kepada Ketua DPC PDIP Klaten Sri Mulyani di Kantor DPC PDIP Klaten (Angga Purenda)

Share this      

KLATEN – Manuver politik dilakukan Golkar jelang pemilihan kepala daerah (pilkada) 2020 mendatang. Partai berlambang pohon beringin ini memutuskan berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Keseriusan Golkar dibuktikan dalam pernyataan politik di Kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Klaten, Kamis siang (19/9). 

Saat datang ke kantor DPC PDIP Klaten, rombongan dipimpin Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Golkar Yoga Hardaya. Keputusan berkoalisi dengan PDIP, mempertimbangkan kepimpinan Bupati Klaten Sri Mulyani. Selama ini Sri Mulyani dinilai mampu mewujudkan pembangunan merata. Baik fisik maupun nonfisik. Termasuk menurunnya tingkat kemiskinan, perekonomian meningkat, dan pendidikan maju.

“Begitu juga kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada rakyat, transparan, serta laporan keuangan mendapatan predikat WTP (wajar tanpa pengecualian). Termasuk penghargaan yang diterima selama ini menjadi pertimbangan kami mendukung Sri Mulyani dan berkoalisi dengan PDIP,” tandas Yoga.

Keputusan merapat ke PDIP ini untuk mengakomodasi aspirasi anggota Golkar. Sesuai keputusan rapat pleno DPD II Golkar yang diperluas dengan Pimpinan Kecamatan Golkar se-Klaten. Tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Nomor: KEP-04/GOLKAR 11.16/IX/2019.

Dalam pernyataan politik Golkar, terdapat empat poin. Yakni mendukung sepenuhnya kepimpinan Sri Mulayani memimpin Pemkab Klaten. Termasuk berkoalisi dengan PDIP. Serta mengajukan Yoga Hardaya sebagai calon wakil bupati dalam pilkada 2020.

“Intinya kami menyampaikan dukungan dan menyerahkan keputusan partai dengan PDIP pada pilkada 2020. Harapannya calon wakil bupati berasal dari Golkar. Meskipun nanti rekomendasi yang turun wakilnya bukan dengan saya, kami tetap berkomitmen sebagai partai pengusung,” beber Yoga.

Pertimbangan lain Golkar merapat ke PDIP, karena peluang memenangkan pilkada lebih besar. Jika digabungkan, kedua partai tersebut punya 26 kursi di DPRD Klaten. Atau lebih dari separo kursi di legislatif. “Kami tegaskan dalam koalisi ini tidak ada syarat khusus. Kami akan ikuti tahapan yang ada,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPC PDIP Klaten Sri Mulyani menyambut positif keputusan Golkar. “Koalisi ini sama sekali tidak ada syarat. Apalagi sosok Pak Yoga (Hardaya) saat menjadi Wakil Ketua DPRD Klaten kerja samanya sangat baik. Tapi lihat nanti, bagaimana rekomendasi DPP (Dewan Pimpinan Pusat) PDIP,” ucapnya.

PDIP masih membuka pintu koalisi bagi partai lainnya. Meskipun sejatinya tanpa koalisi, PDIP mampu mengusung calon bupati dan calon wakil bupati sendiri. “Kalau dihitung, PDIP punya 19 kursi atau 27 persen. Tanpa koalisi pun sebenarnya bisa. Tapi kami tidak boleh sombong. Kami tetap buka peluang bagi tokoh-tokoh yang hendak mendaftar,” imbuhnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia