Rabu, 16 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Suhu Politik Memanas, Muncul Intimidasi Jelang Pilkades Sragen

21 September 2019, 11: 35: 59 WIB | editor : Perdana

ilustrasi

ilustrasi

Share this      

SRAGEN – Kampanye pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak Kabupaten Sragen di sejumlah desa memanas. Ada warga yang diintimidasi, hingga saling lapor antar tim sukses maupun simpatisan ke polisi.

Salah satu warga Desa Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang, Kartini merasa diintimidasi tim sukses calon kepala desa (Cakades) lantaran beda pilihan. Ada oknum mengenakan penutup muka yang mengintimidasinya Kamis (19/9) sore. Tepatnya usai kampanye cakades sekitar pukul 16.00. Arak-arakan yang melintas di depan rumahnya mengeraskan suara motornya. Bahkan terkesan disengaja.

”Di depan rumah saya menurut saya sudah kelewatan, jadi tarik gas kencang-kencang. Bahkan mau masuk pintu rumah sampai tiga kali,” terang Kartini.

Dia mengaku mengenali salah satu pelakunya. Dan juga terpengaruh alkohol. ”Saya tidak mendukung, tapi ini pesta demokrasi, jadi kita bebas mendukung dari lima calon di Desa Hadiluwih,” ujar dia.

Usai kejadian itu, dia melapor ke Polsek Sumberlawang. Dari kepolisian menyarankan permasalahan tersebut diselesaikan di desa. ”Bagi saya yang merasa terancam, tidak bisa masalah ini hanya selesai di desa. Harus ditindaklanjuti,” tegasnya.

Kejadian kurang mengenakkan juga dialami anggota DPRD Sragen Fathurahman. Dia melapor ke Polres Sragen karena merasa dianiaya di muka umum. Tepatnya di Desa Duyungan, Kecamatan Sidoharjo pada Jumat (20/9) pagi. Bajunya ditarik seseorang hingga robek sepanjang 30 centimeter. Kejadian itu saat dia membantu orasi saudaranya yang juga mencalonkan kepala desa.

”Saat orasi di atas truk, baju saya ditarik dan nyaris dipukul, namun sempat dilerai,” ujarnya.

Dia dianggap melakukan orasi provokatif dan warga luar desa Duyungan. Orasinya dinilai bisa membuat rusuh suasana.

”Sebenarnya yang saya sampaikan itu normatif. Hanya menyampaikan program bupati tolak money politics. Lagian tidak ada aturannya melarang orang luar membantu saudara di pilkades, meski beda wilayah,” terangnya.

Sementara warga Desa Celep Kecamatan Kedawung Suyadi Kurniawan merasa tidak nyaman dengan kontestasi pilkades ini. Saat ini ada dua kontestan di Desa Celep. Suhu politik cukup panas. ”Karena pilkades ini hampir semua akses masuk desa ditutup. Apa ini yang diinginkan dari pemilihan kepala desa?” keluhnya.

Terpisah, Kapolsek Sumberlawang AKP Fajar Nur Ikhsanudin menyampaikan berupaya memediasi pihak terkait masalah pilkades ini. ”Sore ini akan coba kami damaikan semuanya jadi seiya sekata. Sabar dulu,” terangnya. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia