Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Boyolali

Mohon Turun Hujan, Warga Siram Cendol Dawet ke Sendang Mande Rejo

21 September 2019, 15: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Tradisi Udan Dawet berlangsung meriah di Dusun Duku, Desa Banyuanyar, Ampel, Boyolali, kemarin (20/9)

Tradisi Udan Dawet berlangsung meriah di Dusun Duku, Desa Banyuanyar, Ampel, Boyolali, kemarin (20/9) (Tri Widodo)

Share this      

BOYOLALI – Warga Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel menggelar tradisi Udan Dawet, kemarin (20/9). Dalam tradisi yang berlangsung di Sendang Mande Rejo, Dusun Dukuh ini, warga berdoa memohon segera turun hujan

Tradisi diawali kirab nasi tumpeng dan minuman dawet. Dibawa ribuan warga setempat dari Masjid An Nur menuju Sendang Mande Rejo yang berjarak sekitar 200 meter. Setiba di sendang, kemudian dilakukan doa bersama. Dipimpin tokoh agama, memohon keselamatan dan segera turun hujan.

Puncak acara, warga menyiram minuman dawet ke sendang. Selanjutnya, seluruh warga menikmati nasi tumpeng lengkap dengan aneka lauknya. Kepala Desa (Kades) Banyuanyar Komarudin menyebut tradisi Udan Dawet sudah berjalan turun-temurun. Digelar rutin setahun sekali pada mongso kapat (penanggalan Jawa) atau Jumat Pon.

“Tujuannya memohon kepada Tuhan agar segera turun hujan. Selain mengatasi kekeringan, juga untuk kebakaran lahan di Gunung Merbabu yang masuk kawasan Ampel,” terang Komarudin.

Kegiatan didukung sepenuhnya masyarakat Banyuanyar. Bahkan, setiap kepala keluarga (KK) di tiga dusun rela membuat tumpeng, lengkap dengan lauk dan sayuran. Mereka juga membuat minuman dawet.

“Oleh masyarakat di Desa Banyuanyar dan desa di lereng Gunung Merbabu, ritual ini sebagai simbol awal memasuki musim hujan. Serta dimulainya masa bercocok tanam,” imbuhnya.

Tradisi Udan Dawet berusaha dilestarikan. Agar tidak tergerus perkembangan zaman. Tentunya, tradisi ini dikemas lebih menarik. Agar mampu menarik minat para generasi muda.

Murni, 34, pengunjung asal Kecamatan Mojosongo mengaku rela datang ke Ampel untuk menyaksikan Udan Dawet. Ke depan, dia berharap tradisi unik tersebut bisa dikemas lebih menarik untuk menggaet wisatawan. “Semoga rutin digelar. Sekaligus sebagai upaya melestarikan budaya gotong royong warga,” ujarnya. (wid/fer) 

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia