Jumat, 06 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Melihat Fungsi Rumah Dinas para Lurah

Jadi Posko Banjir hingga Rias Manten

22 September 2019, 11: 35: 59 WIB | editor : Perdana

SERBABISA: Warga memanfaatkan rumah dinas Lurah Pajang untuk menggelar pertemuan.

SERBABISA: Warga memanfaatkan rumah dinas Lurah Pajang untuk menggelar pertemuan. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Share this      

Mayoritas lurah di Kota Solo disediakan rumah dinas. Bukan hanya sebagai tempat tinggal, fasilitas itu ternyata multifungsi. Terutama pada kondisi darurat.

SEPERTI rumah dinas Kelurahan Pajang. Letaknya di ujung batas kota dan berbatasan dengan Desa Makamhaji serta Desa Banaran Kabupaten Sukoharjo membuat kehidupan sosial masyarakatnya beragam. Apalagi kelurahan ini juga dilintasi sungai yang kala itu rawan meluap.

Ketika banjir menerjang, Lurah Pajang, Agung Budiyanto menyulap rumah dinasnya menjadi posko bencana agar lebih mudah mendistribusikan bantuan. “Paling sering untuk posko banjir,” jelasnya.

Secara geografisnya, Kelurahan Pajang diapit Sungai Jenes dan Sungai Premulung. Keduanya kerap saat musim huhjan. Seperti di RW 09, Sungai Jenes di sekitar Pasar Jongke meluap lantaran banjir kiriman dari daerah lain. Pedagang harus cepat memindahkan dagangannya ke lokasi lebih tinggi. 

Begitu pula ketika Sungai Premulug meluap. Warga terpaksa mengungsi. “Kalau seperti itu biasanya pendapa (kelurahan) dipakai menyimpanan logistik. Jika yang terdampak banjir banyak, biasanya pendapa jadi lokasi mengungsi. Rumah dinas saya jadikan posko,” terang Agung.

Lalu, dimana Agung tinggal saat banjir terjadi? Dia mengaku kadang ikut menginap di ruang seadanya di rumah dinasnya. “Biasanya untuk kegiatan tertentu, saya dan istri tinggal di rumah dinas. Kalau keadaan mendesak, mereka saya ungsikan ke rumah (pribadi) dulu. Soalnya anak yang bungsu juga masih SD,” jelasnya.

Selain untuk posko dalam keadaan darurat, rumah dinas Kelurahan Pajang difungsikan untuk mendukung program Kotaku, giat mahasiswa KKN, PKK, hingga tempat mediasi warga ketika ada perkara hingga malam hari.

“Yang penting itu pelayanan masyarakat. Rumah dinas itu memang fasilitas untuk lurah. Tapi saya akan senang kalau masyarakat juga bisa menggunakannya. Jangankan untuk keadaan mendesak, waktu hajat pernikahan warga, rumah dinas bisa dipakai untuk menyimpan catering,” urainya.

Sedangkan Lurah Jebres Training Hartanto mengaku blabak  di rumah dinas. Artinya, dalam sehari-hari dia tinggal di fasilitas tersebut. Namun, masyarakat juga tetap diizinkan memanfaatkan sejumlah fasilitas kelurahan. Di antaranya acara pernikahan di pendapa kelurahan. Di saat itu, Training tak keberatan rumah dinasnya dipakai untuk lokasi rias pengantin. “Kalau saya itu intinya jujur, pasti akan saya upayakan (bantu keperluan warga),” katanya.

Ditambahkan Training, di bulan ketiga menjabat lurah, dia sempat didatangi puluhan warga yang memprotes wacana pembangunan RSUD mengusung tema nuklir. “Warga salah paham. Dipikirnya nuklir itu seperti membuat bom nuklir itu. Setelah dijelaskan, ya akhirnya paham,” ucapnya. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia