Sabtu, 25 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Penyimpangan Seksual di Balik Jeruji Besi, “Disiksa” Malah Ketagihan

23 September 2019, 22: 44: 26 WIB | editor : Perdana

ilustrasi

ilustrasi (IRECK O/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Cerita penyimpangan perilaku para narapidana, termasuk dalam urusan seksualitas kerap muncul. Ada banyak faktor yang memicu mereka melakukan perbuatan menyimpang ini. Seperti apa cerita “horor” yang pernah dialami penghuninya? 

Mendekam di balik sel penjara menjadi ujian bagi para narapidana (napi). Termasuk dalam urusan “ranjang” bagi mereka yang sudah berkeluarga. Karena tidak terpenuhinya hasrat ini, maka ada dari mereka melakukan perbuatan disorientasi seksual. 

Salah satunya YD, 45. Pria yang pernah mendekam di salah satu lapas wilayah eks Karesidenan Surakarta ini mengaku sempat mengalami penyimpangan orientasi seksual selama hidup di balik sel penjara.

Selama enam bulan pertama, dia masih normal. Memasuki bulan berikutnya dia mulai memendam hasrat. Maklum, jauh dengan keluarga tentu sangat menyiksa. Demi memuaskan hasrat ini, mulai muncul kebiasaan aneh. Dia sering mengintip kehidupan di blok napi perempuan. “Saya gak tahu, tiba-tiba muncul hasrat itu. Dan itu akhirnya jadi kebiasaan,” ujarnya.

Kelakuan YD ini semakin menjadi-jadi. Dari balik blok perempuan yang dibatasi dengan jeruji besi itu, dia mulai berani meminta pakaian dalam para napi perempuan itu. Awalnya banyak yang menolak, namun lama-lama karena mungkin merasa risih, akhirnya para napi perempuan ini pun merelakan menyerahkan pakaian dalamnya pada napi ini. “Saya lakukan ini sampai hampir mau bebas. Jadi sekitar empat tahun,” tutur warga Solo ini.

Penyimpangan seksual ketika menghuni lapas juga dialami WA, 34, warga Solo. Dia mengatakan, kisah kelamnya ini dimulai saat dia dipindahkan ke salah satu lapas di wilayah Jawa Tengah beberapa tahun silam. Di lokasi tersebut ada kebiasaan mengincar napi baru.

“Kalau ada anak baru, kulitnya putih dan bersih pasti dikerjai macam-macan oleh napi senior. Termasuk soal urusan seksual. Sepekan mulai masuk sel langsung dikerjai. Jadi waktu itu ingat saya, waktu tidur ada napi berbuat tidak senonoh pada saya,” katanya.

Hal terus dialami mantan napi pencurian dengan pemberatan (curat) ini selama beberapa pekan. Bahkan perbuatan mereka semakin menjadi-jadi. Dia bahkan sempat akan disodomi oleh napi lain. “Saya langsung lari dan mengadu ke sipir penjara, namun tidak pernah digubris," ttuur WA. 

Rupanya pengaduan dia diketahui napi senior tadi. Akhirnya dia malah menjadi bulan-bulanan napi tadi. “Waktu malam hari saya digebukin sama mereka. Tidak hanya itu, saya juga ‘dikerjai’,” katanya.

‘Siksaan’ tersebut terpaksa diterima oleh WA sampai hampir enam bulan. Karena setiap aduan tidak digubris, dia pun pasrah. Anehnya, awalnya WA merasa ini sebuah ‘siksaan,’ namun perlahan justru membuat dia ketagihan. Hingga akhirnya dia mengalami penyimpangan orientasi seksual. 

“Jujur awalnya tersiksa sekali. Tapi lama-lama saya merasa terpuaskan ketika diperlakukan seperti itu,” ujarnya.

Tidak hanya dia, WA mengaku, hampir 30 persen warga binaan di lapas itu mengalami penyimpangan seksual. “Kalau di blok saya mainnya di kamar pada malam hari. Kalau di blok lain ada yang main di kamar mandi dan tidak kenal waktu. Siang juga. Setelah saya tanya info ternyata tahanan perempuan juga begitu. Ada yang sama-sama memuaskan nafsu sama-sama napi perempuan,” katanya.

Ironisnya, kebiasaan buruk ini terbawa sampai WA keluar dari lapas. Setiap melihat sosok laki-laki, terutama yang berusia antara 16 hingga 22 tahun, dia selalu tertarik ‘mengerjai’. “Tapi itu berhasil saya tahan. Takut berurusan lagi sama yang namanya penjara,” katanya.

Tak hanya tahanan laki-laki, tahanan perempuan juga mengalami penyimpangan seksual ketika berada dibalik jeruji penjara. IS, 33, mantan napi perempuan asal Sukoharjo ini mengaku pernah mengalami pemnyimpangan seksual juga. ”Tapi saya ‘main’ sendiri. Tidak mau dengan napi lain,” ungkapnya saat ditemui koran ini belum lama ini.

Diakui IS, ada sejumlah rekannya di dalam sel memiliki penyimpangan seksual. Dia sering memergoki sesama napi perempuan ‘main’ di dalam sel. “Hampir semua cewek main sama cewek. Saya tidak ikut-ikutan, pilih ‘main’ sendiri saja,” tutur IS.  

Deteksi Dini Perilaku Napi

Masalah penyimpangan seksual di dalam penjara memang bukan rahasia umum. Bahkan terjadi di beberapa lembaga permasyarakatan (lapas) maupun rumah tahanan (rutan). Hal ini pun diakui Kasi Pelayanan Rutan Kelas IA Surakarta Solichin. Dia mengaku pernah mendapati narapidana atau warga binaannya yang mengalami orientasi seksual menyimpang.

Fenomena ini dialami Solichin saat masih bertugas di salah satu lapas luar Kota Solo. Saat itu ada salah seorang napi homoseksual. Hal tersebut membuat napi pria yang lain takut. “Tapi, waktu itu sebelum masuk ke lapas, dia sudah homoseksual. Jadi penyimpangan dia bukan ketika sudah di dalam,” tuturnya.

Setelah mengetahui hal itu, Solichin langsung bertindak cepat. Dia memasukkan napi tersebut ke sel isolasi. Hal ini demi menjaga kenyamanan warga binaan lain. “Karena waktu itu sempat ada yang cerita yang bersangkutan akan melakukan tindak kekerasan apabila warga binaan yang dia incar menolak melayani,” ujarnya.

Lalu bagaimana dengan Rutan Solo? Solichin mengatakan, hingga saat ini belum mendeteksi adanya hal tersebut. Meski begitu, pihaknya bersama tim sudah melakukan antisipasi sejak dini. Dalam penempatan tahanan, petugas melakukan dengan sangat selektif.

Selain memisahkan narapidana kasus nakotika dan kriminal umum, petugas juga mengelompokkan napi secara spesifik. Bila nanti terdeteksi ada penyimpangan atau disorientasi seksual,akan diletakkan dalam sel yang sama. “Tentu selnya akan diawasi ketat oleh petugas. Agar segala jenis penyimpangan bisa dicegah,” katanya.

Begitu pula dengan narapidana perempuan. Solichin mengaku, petugas rutan yang menjaga di blok perempuan harus paham dan dapat mengamati terkait penyimpangan yang terjadi. “Petugas juga harus bisa mengamati, bagaimana gelagat warga binaan mereka. Apabila ada yang mencurigakan akan segera melapor agar ditindaklanjuti,” paparnya.

Guna mencegah hal ini, lanjut Solichin, Rutan Kelas IA Surakarta memiliki strategi berupa memadatkan kegiatan para warga binaan mereka. Seperti kegiatan kesenian, keterampilan, olahraga dan lainnya. “Dengan kegiatan padat, maka napi tidak lagi berpikir ke arah memuaskan hasrat seksual,” ujar Solichin.

Rutan Solo juga sudah menjalin MoU dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Surakarta. Setiap bulan sekali digelar pesantren kilat. Hal ini diharapkan juga bisa mencegah hal-hal negatif.  Bagi mereka yang beragama Nasrani juga dilakukan kebaktian setiap pagi hari sebelum memulai aktivitas.

“Mereka masuk ke rutan ini kan dengan berbagai permasalahan hukum. Ada narkoba, kriminalitas dan lain sebagainya. Terlebih di sini juga dibayangi hal yang mengkhawatirkan. Maka dari itu, untuk menyadarkan mereka perlu dibentengi dengan ilmu dan menguatkan rohani mereka melalui pendekatan religi,” jelas Solichin.

Lalu bagaimana apabila penyimpangan tersebut terjadi? Solichin menuturkan tentunya yang bersangkutan akan ditindak tegas. Konsekuensinya hak mereka akan dicabut, termasuk sanksi administrasi Register F, di mana hak mereka untuk mendapat remisi tidak akan diberikan.

Lalu bagaimana dengan penyakit menular? Seperti HIV dan AIDS, Solichin juga mengatakan sampai saat ini belum ada warga binaan yang terjangkit penyakit tersebut. Untuk pemeriksaan rutin, pihaknya bekerjasama dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi Solo. “Setiap sepekan sekali kami selalu koordinasi terkait penyakit-penyakit yang diderita warga binaan kami,” katanya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia