Selasa, 10 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Presiden Toxinologi dr Tri Maharani: Digigit Ular, Jangan ke Dukun!

23 September 2019, 23: 12: 03 WIB | editor : Perdana

Presiden Indonesia Toxinologi dr Tri Maharani memberi paparan di Balai Kota Surakarta

Presiden Indonesia Toxinologi dr Tri Maharani memberi paparan di Balai Kota Surakarta (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Sudah tujuh tahun dr. Tri Maharani, 48, aktif dalam sosialisasi penanganan pertama korban gigitan ular berbisa. Presiden Indonesia Toxinologi sekaligus Kepala IGD RSU Daha Husada Kediri, Jawa Timur itu coba berbagi tips saat menyambangi Kota Solo, kemarin (22/9).

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

ADA yang bilang digigit ular berbisa harus segera disedot darahnya agar racunnya langsung keluar. Ada juga yang mengikat bagian tergigit biar racun tak menyebar. Parahnya lagi yang percaya korban digigit ular langsung sembuh setelah dibawa berobat ke dukun.

Penanganan tersebut di atas disanggah mentah-mentah dr. Tri Maharani saat menjadi pembicara dalam seminar International Snakebite Awarness Day di Balai Kota Surakarta, kemarin (22/9). “Banyak masyarakat terkungkung mitos soal gigitan ular berbisa. Padahal persentase keberhasilan penanganan gigitan ular berbisa bukan pada antibisa yang disedikan. Melainkan pada penanganan pertama setelah terkena gigitan,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Solo. 

Di Indonesia, terdapat 348 spesies ular. Nah, 76 di antaranya masuk kategori berbisa. Mulai dari kategori sedang sampai mematikan. Tak heran, korban gigitan ular di Indonesia mencapai 135 ribu orang per tahun. Yang mencengangkan, 20 persennya harus meregang nyawa karena terlambat ditangani. 

“Korban gigitan ular berbisa di Indonesia tinggi. Di 2016 ada 35 orang meninggal karena gigitan ular berbisa. 2017 ada 45 orang, 2018 ada 47 orang, dan Januari-September 2019 sudah 42 orang meninggal. Padahal di Thailand sejak 2016 sampai sekarang tidak ada yang mati digigit ular berbisa. Pertanyaannya, kok mereka bisa?” imbuh wanita yang akrab disapa Maha ini.

Banyak orang percaya, racun bisa ular menyebar melalui darah. Ada yang menangani dengan menyedot darah di bekas gigitan. Atau mengambil sebagian daging di sekitar luka bekas gigitan. Ada juga yang mengikat kencang bagian tertentu agar gigitan ular tidak menyebar. 

“Salah kaprah, karena racun ular itu menyebar lewat kelenjar getah bening. Bukan lewat darah. Penanganan yang tepat, ada dua hal sesuai fase penyebaran racun. Kalau masih skala lokal, bisa dilakukan terapi. Kalau sudah masuk fase sistemik, dipastikan korban gigitan mati,” bebernya.

Langkah pertama, harus dibedakan apakah gigitan berasal dari ular berbisa atau tidak. “Ular berbisa hanya punya taring. Tandanya satu tusukan sampai tak terhingga. Kalau ular tak berbisa, giginya seperti pisau tajam di kedua sisi. Model gigi depan seperti kait tajam. Jadi luka gigitan ular tak berbisa selalu terbuka dengan robekan otot dan kulit,” terang dia.

Tindakan terbaik, yakni mengurangi gerakan bagian tubuh yang terkena gigitan. Dikenal dengan sebutan imobilisasi. Atau menahan bagian luka tersebut dengan berbagai alat seadanya untuk mengurangi gerakan. Tujuannya agar racun tidak menyebar melalui berbagai jaringan tubuh.

Contohnya gigitan di jari. Usahakan ujung jari hingga pangkal lengan tidak boleh bergerak. Sederhananya, lipat tangan ke dalam baju sambil menunggu penanganan medis. Nah, jika gigitan di kaki, usahakan janga dipakai berjalan. Usahakan tetap duduk sambil meminta pertolongan. 

 “Prinsipnya seperti penanganan patah tulah. Bedanya, jika tulang hanya dua sendi, kalau korban gigitan ular dilakukan menyeluruh dari ujung jari sampai pangkal lengan. Intinya minimalkan gerakan, karena racun di kelenjar getah bening itu mudah menyebar jika korban banyak bergerak,” jelas Advisor Review Temporary World Health Organization (WHO) khusus gigitan ular tersebut.

Penanganan pertama jauh lebih ampuh menyelamatkan nyawa korban. Karena menjaga racun tetap berada di fase lokal. Tapi jika racun sudah menjalar ke berbagai organ vital dan berubah menjadi fase sistemik, nyawa korban hanya bisa diselamatkan dengan antivenom atau antibisa.

“Indonesia baru punya tiga jenis antibisa. Padahal jenis ular berbisa ada 76. Itu pun belum antialergi semua. Dari ribuan kasus yang saya tangani, jika belum sampai fase sistemik, tak perlu antivenom,” ujar kelahiran Kediri, 31Agustus 1971 ini.

Tujuh tahun terakhir, Maha mendedikasikan diri mencari pola penaganan terbaik pada korban gigitan ular berbisa. Dikuatkan dengan pencetusan International Snakebite Awarness Day pada 19 September 2018. 

“Setahun lalu, 20 perwakilan negara-negara di dunia berkumpul di London. Merumuskan kebijakan yang namanya prevent and control penanganan gigitan ular yang selama ini terabaikan. Ini terjadi di seluruh negara, bukan hanya Indonesia. Maka kesadaran ini perlu ditingkatkan agar penanganannya lebih tepat,” katanya.

Maha merasa pemahaman ini harus ditularkan ke masyarakat luas. Tak heran dia gencar melakukan sosialisasi secara mandiri. Kota Bengawan sendiri ditunjuk sebagai host perayaan pencanangan International Snakebite Awarness Day. Uniknya lagi, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang menggelar peringatan tersebut. 

“Dulu WHO membuat hari awarness ini lewat penanganan sedini mungkin. Lalu saya punya ide mengajak kawan-kawan di Solo dalam giat ini. Ternyata disambut baik oleh Exalos (komunitas pecinta reptil di eks Karisidenan Surakarta, Red) dengan mengundang sejumlah peserta,” lanjutnya.

International Snakebite Awarness Day kemarin diikuti 200-an peserta. Mereka diajak berlomba melakukan penanganan pertama pada korban gigitan ular. Maha takjub melihat semangat generasi muda yang sangat kreatif melakukan imobilisasi sesuai arahannya. 

“Anak-anak ini sangat kreatif. Ada yang pakai bilah bambu untuk mengunci pergerakan lengan, ada yang diikat dengan baju, dan sebagainya. Paling tidak mereka bisa menjadi garda terdepan membantu penanganan gigitan ular. Mengingat komunitas Exalos juga punya tim rescue,” papar Maha.

Ke depan, giat serupa akan dilakukan di berbagai kota besar lainnya. Tujuannya sama. Memopulerkan teknik penanganan terbaik pada korban gigitan ular berbisa. Serta berharap Kementerian Kesehatan memberi lampu hijau dan memrioritaskan program tersebut. Karena banyak tenaga medis yang masih belum paham penanganan sesuai standar WHO. (*/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia