Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Marak Kebakaran Lahan, Pemilik Gedung Tinggi Siaga 

27 September 2019, 11: 41: 04 WIB | editor : Perdana

BERLATIH KEBENCANAAN: Tim SAR RS PKU Muhammadiyah Surakarta berlatih mengevakuasi pasien dari lantai atas, Kamis kemarin (26/9).

BERLATIH KEBENCANAAN: Tim SAR RS PKU Muhammadiyah Surakarta berlatih mengevakuasi pasien dari lantai atas, Kamis kemarin (26/9). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Musim kemarau panjang memicu kasus kebakaran, terutama yang terjadi di lahan kosong meningkat. Kasus ini menjadi perhatian khusus Dinas Pemadaman Kebakaran (Damkar) Surakarta. Sebab, kasus kebakaran lahan tahun ini meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan tahun kemarin.

Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Damkar Surakarta Ahmad Arzoni mengibaratkan sepercik api saja, bisa membuat kebakaran hebat. Untuk itu, masalah ini harus ditanggulangi bersama. “Dari data kita, sudah ada 34 laporan masuk terkait kebakaran di lahan kosong,” katanya.

Arzoni menjabarkan, penyebab kebakaran terjadi karena hal-hal sepele dari perilaku masyarakat itu sendiri.  Misalnya, membakar sampah sembarangan hingga membuang putung rokok tidak pada tempatnya. 

“Musim kan sedang panas,  banyak rumput dan semak-semak yang mengering. Lalu membakar sampah atau membuang puntung rokok ke lahan kosong.  Padahal semak yang kering itu bisa membuat api merembet dan membesar. Ditambah angin yang berhembus cukup kencang,” urai Arzoni. 

Ditambahkan Arzoni, dari puluhan kasus tersebut,  kebakaran lahan kosong yang sempat menonjol adalah kebakaran lahan yang berada di kawasan Rusunawa Mojosongo.  Kala itu radius penyebaran api mencapai 500 meter sehingga hampir merambat ke rusunawa dan SPBU ringroad. 

Sedangkan untuk kasus kebakaran lahan yang berakibat cukup fatal adalah kejadian kebakaran di selter Pucangsawit.  Kejadian itu berawal dari masyarakat yang membakar sampah dan ditinggal,  kemudian api dengan cepat  merembet dan menyasar ke arah shalter pedagang. 

Untuk itu,  Arzoni meminta kepada masyarakat untuk tidak menyalakan api sembarangan selama musim panas masih berlangsung. “Diperkirakan musim hujan mulai datang sekitar bulan November mendatang,” ujarnya.

Mengantisipasi kesigapan bila terjadi kebakaran, sejumlah instansi menggelar simulasi kebakaran. Seperti di Rumah Sakit (RS) PKU Muhamadiyah Surakarta kemarin pagi (26/9). Tim SAR rumah sakit setempat berlatih bagaimana menurunkan pasien dari lantai atas dengan cara memakai tali pengaman.

“Ini sebagai upaya kami dalam mewujudkan rumah sakit aman bencana. Kita memang tidak tahu kapan bencana itu akan terjadi, tapi perlu siaga. Ini sekaligus mengukur kemampuan tim SAR kami. Bila sewaktu-waktu ada kejadian terburuk kebakaran mereka sudah siap,” urai ketua pelaksana simulasi Din Kalkuhadi. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia