Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Modal Nekat, Pelajar Turun ke Jalan

27 September 2019, 13: 01: 45 WIB | editor : Perdana

IKUT-IKUTAN: Puluhan pelajar longmarch dari Plaza Manahan menuju gedung DPRD Surakarta kemarin (26/9).

IKUT-IKUTAN: Puluhan pelajar longmarch dari Plaza Manahan menuju gedung DPRD Surakarta kemarin (26/9). (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Berita Terkait

SOLO – Tak mau kalah dengan seniornya yang kompak berdemonstrasi menolak sejumlah rancangan undang-undang (RUU) kontroversial, puluhan pelajar dari beberapa SMK di eks Karesidenan Surakarta ikut turun ke jalan menyuarakan aspirasinya kemarin (26/9).

Mereka terlebih dahulu berkumpul di kawasan Plaza Manahan kemudian longmarch menuju kantor DPRD Surakarta. Ketika ditanya apakah paham dengan materi yang disuarakan? Para pelajar itu mengaku tidak tahu dan turun kejalan atas dasar ikut-ikutan serta loyalitas. 

Seperti diungkapkan salah seorang peserta aksi GW,15. Dia ikut demonstrasi setelah diajak temannya. Bersama puluhan siswa lainnya, dia berangkat dari Boyolali menumpang di truk bak terbuka menuju Plaza Manahan. Di tempat ini mereka menunggu pelajar lainnya.

"Ada yang dari Gemolong, Kebakkramat, Sambi, Miri,  macam-macam campur jadi satu," jelas GW.

Menurut GW, dia ikut demonstrasi menolak revisi RKUHP (Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Namun, GW tidak tahu apa saja isi materi RKUHP yang dinilai kontroversial. "Pokok e maju sek mas (yang penting maju dulu). Bubarkan DPR karena sudah semena-mena terhadap rakyat,” kata dia. 

Aksi tersebut dilakukan pada jam sekolah, apakah GW membolos? Dia mengaku sekolahnya libur setelah berlangsungnya ujian tengah semester (UTS). 

Sementara itu, massa pelajar ini hanya menggelar aksi di depan gedung DPRD Surakarta hanya selama 10 menit, lalu kembali ke Plaza Manahan. Belum sampai ke lokasi, mereka diangkut menggunakan kendaraan polisi ke Mapolresta Surakarta.

Kapolresta Surakarta  AKBP Andy Rifai menuturkan, para pelajar digiring ke mapolresta karena menggelar aksi tanpa izin. “Yang ada izinnya dari mahasiswi (aksi di hari yang sama),  dan itu agendanya RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual),  kalau ini tidak ada izinnya. Mereka semua bukan pelajar asal Solo," terangnya. 

Hasil pengecekan puluhan handphone milik pelajar, ada enam unit yang tergabung dalam grup WhatsApp bernama SMK SeIndonesia Melawan. Terdapat pesan berisi ajakan kepada siswa SMA, SMK, STM sederajat bolos sekolah untuk mengikuti demonstrasi di DPRD Surakarta.

Menurut Andy, dari sisi usia, para pelajar belum memenuhi syarat sebagai peserta aksi. Sebab sesuai regulasi seharusnya berusia di atas 18 tahun. Upaya yang dilakukan polisi yakni melakukan pembinaan dan memanggil orang tua murid. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia