Selasa, 10 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

58 Kades Petahana Tumbang, Empat Cakades Toyogo Tolak Hasil Pilkades

28 September 2019, 13: 50: 59 WIB | editor : Perdana

ANTUSIAS: Masyarakat Desa Ketro, Kecamatan Tanon antre menyalurkan hak suara dalam pilkades serentak, Kamis (26/9)/.

ANTUSIAS: Masyarakat Desa Ketro, Kecamatan Tanon antre menyalurkan hak suara dalam pilkades serentak, Kamis (26/9)/. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Perhitungan suara dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak Kabupaten Sragen kemarin (27/9) menyisakan pilu bagi 58 calon petahana. Mereka gagal terpilih kembali menjadi kepala desa.

Total ada 126 petahana yang kembali mencalonkan diri. Namun hanya 68 petahana yang berhasil memenangi pertarungan pilkades serentak di 167 desa itu.

Selain itu ada cerita menarik lainnya, yakni tiga mantan anggota DPRD Sragen yang terpilih menjadi kepala desa. Mereka adalah Mahmudi Tohpati yang terpilih sebagai Kades Desa Suwatu, Kecamatan Tanon. Kemudian Poniman di Desa Donohudan Kecamatan Kalijambe. Lalu Maryono di Desa Pantirejo Kecamatan Sukodono.

Kepala Bagian Pemerintahan Desa (Kabag Pemdes) Sekretariat Daerah (Setda) Sragen Hiladawati Aziroh menyampaikan, pada Jumat kemarin digelar pleno di tingkat desa. Hasil pleno akan diserahkan ke BPD. Selanjutnya disampaikan ke bupati untuk segera dilantik.

”Pelantikan akan digelar 27 Desember mendatang,” terang Wati.

Salah seorang cakades petahana yang menang adalah Prantiyono di Desa Jurangjero Kecamatan Karangmalang. Dia mengaku pilkades kali ini lebih berat dibanding sebelumnya.

”Ini head to head, dua orang calon saja. Selisih hanya 78 suara. Sebelumnya lebih ringan karena selisih cukup jauh ada sekitar 200-an suara,” tuturnya.

Di sisi lain empat cakades di Desa Toyogo, Kecamatan Sambungmacan menolak hasil pilkades. Mereka kalah, lantas melapor ke Bupati Sragen agar hasil pilkades ditolak. Pasalnya pemenang diindikasi melakukan sejumlah pelanggaran bagi-bagi uang sebelum coblosan.

Satgas anti Money Politics Desa Toyogo Tri Hartono menegaskan, empat cakades akan mengajukan gugatan untuk membatalkan hasil pilkades. Karena sejak awal proses pilkades ditengarai terjadi kecurangan dan pembiaran money politics.

”Belum lagi uang titipan juga dibiarkan begitu saja. Bahkan saat pelaksanaan pencoblosan pihak pemenang membagikan uang ke warga kisaran Rp 400 ribu - Rp 500 ribu per orang juga tidak ada tindakan. Jelas pembentukan satgas money politik sebatas formalitas belaka,” tegas Hartono. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia