Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Program Pertanian Jateng Jadi Rujukan Nasional

30 September 2019, 15: 04: 55 WIB | editor : Perdana

Mentan Amran Sulaiman dan Gubernur Ganjar Pranowo di Pemalang, Minggu (29/9)

Mentan Amran Sulaiman dan Gubernur Ganjar Pranowo di Pemalang, Minggu (29/9)

Share this      

PEMALANG - Program pertanian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendapat apresiasi khusus dari Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman. Program ini sangat layak dijadikan rujukan oleh seluruh kepala daerah di Indonesia. Jika hal tersebut dilakukan, mentan yakin dalam waktu paling lama 10 tahun sektor pertanian tanah air mampu bersaing dengan Jepang, bahkan Amerika. 

Program pertanian paling menonjol dari Gubernur Jawa Tengah, kata Mentan adalah pengawalan pendataan pertanian. Sebab, data tersebut jadi dasar pengelolaan pertanian yang lebih modern terlebih menghadapi revolusi industri 4.0. 

“Republik ini butuh pak gubernur (Ganjar Pranowo). Beliau selalu lantang mengatakan tidak boleh impor. Hasilnya hari ini gudang Bulog kita sudah penuh. Soal kartu tani, seluruh daerah mesti belajar pada Pak Ganjar. Ide-ide beliau harus ditularkan dari Sabang sampai Merauke,” kata Amran Sulaiman di peringatan Hari Tani Nasional di Pemalang, Minggu (29/9).

Program kartu tani, Jawa Tengah beberapa waktu lalu menjadi yang terbaik di tingkat nasional. Kartu Tani Jateng berhasil sebagai implementasi penyaluran, total transaksi hingga upload RDKK (e-RDKK) terbaik. Saat ini, dari 2,8 juta jumlah petani di Jawa Tengah, 2,5 juta di antaranya telah memegang kartu tersebut. Total dari Januari - Agustus 2019 sebanyak 119.329 transaksi.

“Ini reformasi dunia pertanian kita agar lebih modern. Jika hal tersebut diikuti kepala daerah lain, 5-10 tahun ke depan kita bakal sejajar dengan negara-negara maju, Jepang Amerika misalnya. Sekarang kita dorong kenceng untuk petani-petani milenial,” katanya. 

Terkait modernisasi pertanian juga terus diupayakan Presiden Joko Widodo. Bahkan dalam jangka empat tahun terakhir telah didistribusikan 400 ribu alat mesin pertanian (alsintan). Jika lima tahun lalu tingkat modernisasi pertanian tanah air hanya 0,04 persen, kini telah mencapai 2,15 persen. 

“Bahkan kini peminat kuliah jurusan pertanian kita naik 60 persen. Apa yang dikatakan pak Gubernur benar soal data itu. Saat ini Amerika tingkat modernisasi pertaniannya sebesar 16 persen Jepang 17 persen dan Thailand 2,5,” katanya. 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, data pertanian tersebut jadi dasar utama untuk mengeluarkan kebijakan. Sebab, pemerintah mengetahui siapa tanam apa kapan dan di mana. Dengan akurasi data seperti itu, Ganjar yakin akan memikat para milenial untuk terjun dalam rangka modernisasi sistem pertanian. 

“Petani muda harus kita libatkan. Di lahan yang makin kecil maka teknologi harus masuk. Ingat, kita harus membuat lompatan besar. Jangan begini-begini saja agar kita bisa juara di politik pangan dunia,” katanya.

Sementara itu, total ekspor produk pertanian Jawa Tengah per September 2019 mencapai Rp 2,51 triliun. Mentan mengatakan, tingginya nilai ekspor tersebut karena keterlibatan para petani-petani muda yang tidak lagi berorientasi swasembada pangan, tapi mengekspor. 

Hasil pertanian Jawa Tengah yang masuk pasar dunia sangat beragam, dari kedelai, edamame, kapulogo, kacang-kacangan, beras hitam sampai daun kelor dan daun pakis. Bahkan yang terbaru juga mengekspor kacang hijau, kapulaga, daun pakis dan sarang Walet.  “Sampai hari ini Jawa Tengah telah mencapai Rp 2,51 triliun. Capaian luar biasa ini idukung oleh petani dan eksportir muda,” ujarnya. (lhr/bun) 

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia