Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Budi Prasetyo, Nakhoda Baru DPRD Kota Surakarta 

02 Oktober 2019, 08: 05: 59 WIB | editor : Perdana

EMBAN AMANAH: Budi Prasetyo siap menjalankan tugas barunya.

EMBAN AMANAH: Budi Prasetyo siap menjalankan tugas barunya.

Share this      

Masuk “kandang banteng” sejak lulus kuliah membuat Budi Prasetyo banyak makan asam garam politik lokal. Kini setelah dia menjadi ketua DPRD Kota Surakarta 2019-2024, apa yang ingin dikerjakan?

IRAWAN WIBISONO, Solo, Radar Solo

WAJAH ramah selalu tesirat dari sosok Budi Prasetyo. Pria kelahiran Solo 47 tahun lalu ini belum genap sebulan duduk sebagai ketua DPRD Kota Surakarta. Politikus PDIP asal Kecamatan Laweyan tersebut mengaku tak bercita-cita apalagi berambisi menduduki kursi panas pimpinan dewan.  

Budi Pras, begitu dia disapa, menceritakan bagaimana dia mengabdi melalui partai berlambang banteng moncong putih itu kepada Jawa Pos Radar Solo. Dia menjadi simpatisan partai sejak duduk di bangku kuliah. Setelah lulus dari Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret secara resmi dia menjadi kader partai yang saat itu bernama PDI.

“Kenapa PDI, karena hanya PDI yang sesuai ideologi saya. Dulu kan hanya dua partai. PPP dan PDI. Ditambah satu Golongan Karya yang saat itu bukan partai,” katanya.

Alasan lain, lingkungannya di Baron, Panularan memang mayoritas warganya merupakan basis massa merah. Selain aktif di partai, Budi muda juga giat di karang taruna serta organisasi kepemudaan lainnya. Keaktifan tersebut menjadikan partai menugaskannya menjadi pengurus di tingkat ranting pada 1998. 

Selama dua periode dia duduk sebagai sekretaris dilanjutkan ketua ranting. Setahun berselang Budi dianggap layak untuk maju sebagai calon legislatif. Dia mendapatkan nomor urut 6 untuk daerah pemilihan Kecamatan Laweyan. “Belum jadi, karena yang jadi empat orang. Saat itu sistemnya masih suara partai, jadi yang menentukan caleg jadinya partai,” ingatnya.

Karena tak memiliki ambisi, pria yang kini menjadi wakil sekretaris DPC PDIP Kota Surakarta ini tak gentar untuk tetap berkiprah di politik. Dia maju kembali pada Pemilu 2004, namun belum dihinggapi dewi fortuna. Barulah pada Pemilu 2009 namanya tercatat sebagai anggota legislatif di DPRD Surakarta.

“Nggak gampang jadi anggota dewan. Ekspektasi masyarakat sangat tinggi terhadap kita. Sementara yang dapat kita beri hanya akses untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak, akses untuk pendidikan dan perumahan yang baik,” terangnya.

Sedangkan ekspektasi masyarakat terkadang memosisikan anggota dewan seperti Supermen. Dalam keadaan sesulit apapun dia harus dapat tampil sebagai pahlawan. “Persepsi masyarakat anggota DPRD itu seperti anggota DPR RI. Tapi itulah masyarakat, apapun itu kita harus layani,” papar Budi.

Karena ekspektasi yang berlebihan itu, pria yang sebelumnya menjabat sebagai ketua Komisi I DPRD Surakarta periode 2014-2019 ini pernah kewalahan. Tak jarang dia mendapat cacian dari masyarakat. Sering pula dia disumpah serapah dan beberapa respons negatif lainnya. Hal itu dianggap wajar. Sebab, komitmen ketika menjadi anggota dewan adalah memberikan pelayanan.

“Maka dari itu kami menyarankan kepada anak muda yang akan terjun ke politik hendaknya belajar dari dasar. Kalau sudah tahu pengalaman dari bawah, nanti menyelesaikan permasalahan di atas relatif lebih mudah,” katanya.

Budi mengaku siap mengemban amanah sebagai Ketua DPRD Kota Surakarta satu periode ke depan. Dia berharap kerja sama antara legislatif dan eksekutif dapat membuahkan hasil berupa kesejahteraan rakyat. “Soal karir politik saya mengalir saja, yang penting tugas ini tertunaikan,” ujarnya. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia