Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Napi Buta Alquran Akhirnya Bisa Khatam 

03 Oktober 2019, 14: 32: 16 WIB | editor : Perdana

TOBAT: Warga binaan Rutan Klas IA Surakarta belajar mengaji pada program pesantren kilat.

TOBAT: Warga binaan Rutan Klas IA Surakarta belajar mengaji pada program pesantren kilat. (A.CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Upaya Rumah Tahanan (Rutan) Klas IA Surakarta menyadarkan warga binaanya lewat pesantren kilat ternyata ampuh. Terbukti, setelah menjalani program keagamaan selama dua pekan saja, warga binaan kian fokus beribadah.

Salah seorang warga binaan kasus tindak pidana korupsi, Samidi, 50, mengaku menjadi lebih paham tentang ilmu agama

"Awalnya saya tidak tahu apa itu salat jenazah. Membaca Alquran cuma bisa sekadar membaca,  tidak tahu apa itu maksudnya, dan lain sebagainya soal agama.  Tapi, setelah mengikuti ini (pesantren kilat), sedikit-sedikit mulai paham," ujar pria yang diangkat sebagai takmir masjid rutan itu.

Mantan kepala Desa Palur,  Mojolaban,  Sukoharjo tersebut berjanji mengamalkan ilmu yang diperolehnya dari pesantren kilat ketika bebas. “Saya ingin berkontribusi di masyarakat. Dengan apa yang telah saya dapatkan di sini. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan seperti dulu lagi,” terangnya.

Sementara itu, Kasi Pelayanan Rutan Kelas IA Kota Surakarta Solichin mengatakan, program pesantren kilat tahap pertama diadakan sekitar satu bulan terakhir. Pihaknya menggandeng Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surakarta dan Yayasan Insan Sakena.

“Program pesantren kilat tahap pertama diadakan 3-14 September. Sebanyak 50 warga binaan kami libatkan secara bertahap untuk membentengi diri dari hal negatif, baik di dalam maupun di luar rutan nantinya. Termasuk, menjadi bekal mereka setelah bebas untuk diaplikasikan di masyarakat,” bebernya mewakili Kepala Rutan Surakarta Muhammad Ulin Nuha. 

Rencananya, program serupa digelar rutin setiap bulan. Dengan harapan mampu memberikan ilmu keagamaan secara intensif “Nantinya, warga binaan yang telah mengikuti kegiatan ini dipilih untuk kembali ikut menjadi pemimpin kelompok, sehingga dapat membimbing warga binaan lain,” ujar dia.

Menurut Solichin, banyak warga binaan mengalami perubahan ke arah positif secara drastis. Dia mencontohkan ada warga binaan yang sama sekali tidak bisa membaca Alquran,  namun setelah mengikuti pesantren kilat, bisa khatam. "Ternyata di kamar diulang kembali (membaca Alquran), sehingga lama-lama bisa" katanya. 

“Namun, harapan besar kita bukan sekadar membaca Alquran. Namun bisa memahami dan mengamalkannya. Tiap peserta pesantren kilat kita beri sertifikat sebagai bekal ketika sudah keluar dari rutan. Sekaligus bukti kepada masyarakat supaya ilmu yang didapat bisa diakui," imbuh Solichin. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia