Minggu, 20 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

Butuh Transparansi, Stakeholder Persis Perlu Duduk Bersama

04 Oktober 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Ginda Ferachtriawan

Ginda Ferachtriawan

Share this      

SOLO - Pernyataan sikap Vijaya Fitriyasa yang mengklaim telah membeli 70 persen saham dari manajemen lama Persis Solo ternyata terus memicu polemik.

Terakhir, pernyataannya yang ingin membangun mes permanen buat Persis dengan berencana membeli bekas mes Arseto Solo. Pernyataan itu langsung memantik komentar dari salah seorang legislator Kota Solo.

Hal itu cukup beralasan, mengingat lahan bekas rumah sakit Kadipolo yang pernah menjadi mes Arseto itu telah dijadikan cagar budaya serta dilindungi oleh Pemprov Jateng. Tak hanya itu, dari status kepemilikan lahan ternyata juga bermasalah. Yaitu terkait jual beli yang dilakukan pemilik awal dan santer diberitakan di beberapa media awal Maret 2019 lalu.

“Intinya Persis ini mau dibawa ke mana (oleh manajemen baru,Red)? Karena itu, saatnya untuk duduk bersama guna menyelesaikan secara profesional dan etika bisnis dengan baik. Karena statemen ingin membeli mes bekas Arseto cukup mengagetkan. Mengingat mes yang bekas rumah sakit Kadipolo itu merupakan cagar budaya dan masih berstatus sengketa hukum antara pemilik dan calon pembeli,” papar anggota DPRD Surakarta Ginda Ferachtriawan, kemarin.

Ditambahkan Ginda, seyogyanya investor baru Persis tak sekadar obral janji dan memberikan gimmick dalam program jangka panjang Persis ke depan. Termasuk akan menjadikan Stadion Manahan sebagai home base untuk latihan Persis setelah diresmikan nantinya.

”Sebagai legislator maupun supporter Persis, kita inginnya semua segera selesai, transparan dan segara tampak hasilnya. Saya pribadi mengkhawatirkan laga Persis yang tinggal 3 kali pertandingan akan terdampak, akibat hal-hal yang belum clear ini,” tegas wakil rakyat dari partai berlambang Banteng Moncong Putih ini.

Selama ini sepak terjang Vijaya Fitriyasa yang tiba-tiba muncul dan mengklaim telah membeli 70 persen saham mayoritas Persis Solo selalu jadi sorotan. Mulai dari komitmen membeli klub, rencana transfer pemain baru, lalu rencana mendirikan mes pemain dan menjadikan Stadion Manahan sebagai home base untuk latihan.

”Guna menciptakan transpransi, sudah saatnya semua stakeholder terkait saling bertemu. Jangan justru terkesan mengulur-ulur waktu, karena justru akan memunculkan banyak pertanyaan. Termasuk tidak adanya transparansi dan dilibatkannya para pemilik saham minoritas Persis. Di mana ketika ada investor baru yang mengklaim telah memiliki saham 70 persen, berarti itu tidak sah,” tegas pria yang sempat jadi wakil Presiden DPP Pasoepati tersebut. (edy/nik)  

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia