Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Penetapan Lokasi Proyek Tol Solo-Jogja Tertunda

05 Oktober 2019, 13: 25: 42 WIB | editor : Perdana

Sekretaris Daerah Klaten Jaka Sawaldi

Sekretaris Daerah Klaten Jaka Sawaldi (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Penetapan lokasi (Penlok) proyek Tol Solo-Jogja oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tertunda. Menyusul belum selesainya sejumlah permasalahan pada proyek strategis nasional (PSN) di Jateng. Termasuk Tol Bawen-Jogja. Mengingat penlok Tol Solo-Jogja bakal jadi satu dengan Tol Bawen-Jogja.

Penundaaan ini diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten Jaka Sawaldi. Setelah dia menghadiri pembahasan proyek tol di Semarang, awal Oktober kemarin. Dia ditemani jajaran dinas pekerjaan umum-penataan ruang (DPU-PR), dinas pertanian ketahanan pangan dan perikanan (DPKPP), serta para camat yang wilayahnya terdampak tol.

“(Penlok) masih tertunda. Masih terdapat beberapa permasalahan. Nanti akan diumumkan bersamaan dengan Tol Bawen Jogja,” jelas Jaka usai di Gedung Paripurna DPRD Klaten, kemarin (4/10).

Meski penlok Tol Solo-Jogja belum ditetapkan, namun trase atau sumbu jalan sudah tidak ada masalah. Termasuk tiga titik exit tol di Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo; Desa Borangan, Kecamatan Manisrenggo; dan terakhir di Kecamatan Ngawen.

“Begitu juga untuk titik rest area. Sudah tidak ada masalah. Nantinya rest area ada di Kecamatan Karangnongko dan Kecamatan Ngawen,” beber Jaka.

Terkait usulan pemkab menambah dua kaki pada exit tol di Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo, masih dalam pembahasan. Akan ditindaklanjuti setelah tol beroperasi. Awalnya, exit tol di Desa Kapungan hanya mengarah ke jalan arteri Solo-Jogja. Namun Pemkab mengusulkan menambah satu kaki, mengarah ke Jalan Jatinom-Tulung. Mendukung pengembangan kawasan industri.

“Nanti dilihat dulu bagimana intensitas lalu lintasnya. Jadi baru akan dikaji setelah tol dibuka. Memang tidak bisa dipaksakan dua kaki exit tol. Karena penloknya belum ada. Harus ada studi banding lagi. Mulai dari awal lagi,” terangnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang (Kabid) Tata Ruang DPU-PR Klaten Joko Suprapto mengaku total lahan di Klaten terdampak tol sekitar 600 hektare. “Dari jumlah itu, 73 persen merupakan lahan pertanian. Yang 17 persennya kawasan permukiman,” ujarnya. (ren/fer) 

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia