Minggu, 20 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Features

Melihat Warga Binaan Rutan Solo yang Rajin Berkarya

06 Oktober 2019, 07: 05: 59 WIB | editor : Perdana

TELATEN: Edi Winoto membuat miniatur kapal layar di ruang bimbingan kegiatan Rutan Klas IA Surakarta.

TELATEN: Edi Winoto membuat miniatur kapal layar di ruang bimbingan kegiatan Rutan Klas IA Surakarta. (A.CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

Kukuhnya jeruji besi Rumah Tahanan (Rutan) Klas IA Surakarta tak mampu mengekang kreativitas sejumlah warga binaan. Sebaliknya, jiwa seni mereka kian terasah untuk menghasilkan karya bernilai ekonomis.

A.CHRISTIAN, Solo, Radar Solo 

ADALAH Edi Winoto yang baru delapan bulan mendekam di rutan aktif membuat miniatur kapal layar. Ketika Jawa Pos Radar Solo menyambangi ruang bimbingan kegiatan rutan setempat, warga Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres itu sedang sibuk memilah bambu bahan baku kerajinan. 

Dibantu salah seorang warga binaan lain, Edi membelah batang bambu hasil sortir. Ada yang dibelah menjadi dua dan empat bagian. Proses selanjutnya, bambu diserut untuk diambil bagian kulitnya lalu dipotong sesuai ukuran. "Ukurannya macam-macam. Ada yang 30 sentimeter dan 60 sentimeter," ujar Edi.

Rampung menguliti bambu, warga binaan kasus narkoba ini membuat rangka kapal dari batang bambu. Setelah rangka terbentuk, kulit bambu dilem mengikuti pola rangka.

Tahapan lebih rumit menanti. Yakni membuat aksesori seperti kabin, jendela kapal, tiang, hingga layar kapal yang kesemuanya ber bahan bambu. 

"Ada dua tipe (kapal). Ada yang ujungnya hanya pakai aksesori seperti tongkat biasa, ada yang kepala naga. Saya pasang pakai lem semua. Setelah kering, baru dipernis," katanya.

Dari mana mendapat ilmu membuat kerajinan? Ternyata, sebelum divonis 5 tahun 2 bulan penjara, Edi merupakan perajin sangkar burung. Setelah menjalani masa hukuman, dia bertemu petugas rutan dan ditawari membuat kerajinan.

“Saya pikir dari pada bengong di kamar (tahanan) saya terima saja (tawaran petugas rutan), buat mengisi kesibukan," ucapnya. Semua bahan baku, dan peralatan pertukangan disediakan oleh pihak rutan. Termasuk yang memasarkan hasil karyanya. 

"Karena di sini (rutan) dibatasi waktu, paling sebulan hanya bisa produksi 10 buah kapal layar. Membuatnya dari jam 08.00 sampai jam 12.00. Itu pun kalau tidak terpotong program pembinaan atau acara lain," ujar Edi.

Sistem pemasaran kapal layar hasil karya Edi cukup sederhana. Petugas rutan men-display­-nya di ruang jenguk tahanan. "Jadi setiap ada keluarga yang menjenguk bisa melihatnya. Ada beberapa yang tertarik kemudian membelinya,” ungkap Kasi Pelayanan Rutan Klas IA Surakarta Solichin. 

Selain dipamerkan di ruang jenguk tahanan, setiap Minggu, pihak rutan membuka galeri bimbingan kegiatan yang di dalamnya berisi kerajinan warga binaan. Target pasarnya adalah masyarakat yang hadir pada event car free day (CFD) Jalan Slamet Riyadi. Kebetulan, posisi Rutan Surakarta di kawasan yang sama. 

Kerajinan kapal layar Edi dipatok harga Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu. Tergantung kerumitan model dan ukuran. "Untuk bagi hasil, warga binaan mendapat 15 persen dari penjualan. Sisanya untuk membeli bahan baku dan masuk kas negara,” terang Solichin.

Sedangkan upah warga binaan tidak diberikan secara tunai, melainkan dimasukkan tabungan yang bisa diambil ketika sudah bebas. Bisa juga dipakai dalam keadaan mendesak. Seperti membantu biaya berobat keluarga warga binaan yang sakit. (*/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia