Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Kurang Greget, Bantuan Gamelan Dialihkan ke SMP

06 Oktober 2019, 09: 05: 59 WIB | editor : Perdana

TURUN TEMURUN: Pekerja menyelesaikan pembuatan gong di Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo. Pengadaan alat musik tradisional di kelurahan Kota Solo bakal dihentikan.

TURUN TEMURUN: Pekerja menyelesaikan pembuatan gong di Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo. Pengadaan alat musik tradisional di kelurahan Kota Solo bakal dihentikan. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Pemkot ancang-ancang menghentikan pengadaan gamelan untuk kelurahan di Kota Bengawan. Rencananya, bantuan gamelan dialihkan ke SMP.

Itu disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Surakarta Kinkin Sultanul Hakim. Menurut dia, sudah ada 23 kelurahan yang telah mendapatkan seperangkat gamelan. Namun, pemkot melihat pemanfaatan gamelan di kelurahan tidak terlalu efektif.

Pemain gamelan rata-rata berusia lanjut dan tidak melakukan regenerasi. Selain itu, nihil biaya operasional selama menggelar latihan. “Meski tidak semua, tapi seringkali di kelurahan terkendala dengan tidak adanya biaya operasional saat latihan. Harusnya anggaran kebudayaan di kelurahan tidak semua digunakan untuk kirab. Tapi juga disisihkan untuk operasional (latihan gamelan),” beber dia, Sabtu (5/10).

Kendala lainnya, keberadaan gamelan di kelurahan terkendala perawatan. Pihaknya telah melakukan komunikasi dengan komisi IV DPRD Kota Surakarta terkait pengadaan gamelan tersebut. Hasilnya, anggaran pengadaan gamelan dialihkan untuk SMP. 

Hal itu sejalan dengan pemikiran Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo yang ingin generasi muda mengerti dan dapat memainkan seni tradisional khususnya gamelan.

“Tahun 2020 kita pengadaan 12 atau 13 unit gamelan untuk SMP. Ini adalah upaya pembentukan karakter sejak dini melalui budaya. Generasi milenial kita masih kurang mengerti soal budaya,” terang dia.

Pengadaan gamelan di SMP sudah dilakukan sejak tahun ini. Ada empat unit gamelan yang diberikan untuk SMPN 5, SMPN 10, SMPN 12 dan SMPN 25. Kemudian program tersebut berlanjut pada 2020 dengan sejumlah penyesuaian. Salah satunya adalah bahan pembuatan gamelan serta anggaran yang dibutuhkan.

“Kalau tahun ini (bantuan gemelan) bahannya tembaga. Satu unit sekitar Rp 300 juta. Kalau besok kita pakai bahan kuningan, harganya Rp 200 juta. Kualitas suara sama. Untuk SMP tidak perlu menyewa pelatih. Sebab masing-masing sekolah punya guru kesenian yang ahli karawitan dan tari,” ungkap Kinkin.  

Harapannya, setelah diberi seperangkat gamelan, pelajar SMP dapat tampil dalam berbagai event lokal, nasional, maupun internasional. Itu bakal lebih menunjukkan regenerasi kesenian di Kota Solo berjalan dengan baik.  

Wali Kota dalam beberapa kesempatan selalu menyampaikan jika masih ada anak-anak yang mau menari, menabuh gamelan, dan menyanyikan lagu daerah, maka itu pertanda Indonesia masih memiliki harapan yang panjang. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia