Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Poerjanto Noegroho, Pendiri Komunitas Food Truck

Dulu Musuh Satpol PP, Sekarang Mitra

07 Oktober 2019, 07: 10: 59 WIB | editor : Perdana

INOVATIF: Poerjanto Noegroho (kemeja putih) dan bisnis food truck.

INOVATIF: Poerjanto Noegroho (kemeja putih) dan bisnis food truck.

Share this      

Menjadikan food truck eksis dan berkembang, butuh waktu panjang. Adalah Poerjanto Noegroho pelakunya. Sempat jatuh bangun kucing-kucingan dengan petugas satpol PP. Bersyukur sekarang justru jadi mitra pemerintah. 

BISNIS food truck memiliki sejarah panjang, sebelum diterima dan berjaya seperti saat ini. Dulu food truck jadi musuh satpol PP. Sebab dianggap merusak pemandangan kota. Namun sekarang, alih-alih diusir, justru jadi mitra pemerintah di setiap event.

Poerjanto Noegroho sudah merintis food truck sejak 2012. Diawali kesulitan dia membayar sewa ruko. Saat itu usaha dia berkembang pesat. Namun sang pemilik ruko mematok harga tinggi. Selalu menaikkan harga tiap tahunnya. Hingga dia tak sanggup lagi menyewa. 

Akhirnya terpikir memodifikasi mobil agar bisa digunakan untuk berjualan. Bermodal Rp 25 juta, dia membeli mobil dan memodifikasi layaknya warung keliling.

“Dulu ruko yang saya tempati sepi. Setelah saya ikan cumi dan sotong, jadi ramai. Pemilik ruko ingin meniru. Tapi caranya nakal, akhirnya saya berhenti menyewa,” ujarnya.

Setelah berjualan keliling, Poerjanto harus kucing-kucingan dengan petugas satpol PP. Empat tahun dia kejar-kejaran dengan petugas. Namun dia pantang menyerah. Dimulailah pendekatan diplomatis dengan dinas koperasi dan UMKM. Baik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng maupun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. 

Dia juga rajin berkoordinasi dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) agar mendapat dukungan. Semua usahanya terlihat. Sekarang, dia mendapat pengakuan dan bantuan dari pemerintah.

“Baru tiga tahun belakangan, pemerintah mengakomodasi food truck. Bahkan memberi tempat khusus di Gedung Pramuka Pahlawan, Taman Food Truck, dan Kantor BPSDM Srondol. Alhamdulillah dihargai pemerintah,” lanjutnya.

Sekarang, binsis ini menjamur. Tak merasa tersaingi, Poerjanto bangga bisa menginspirasi masyarakat. Agar kedekatan emosional kian kental, didirikan sebuah paguyuban. 

“Anggota kami 13 orang. Kami rutin menggelar pertemuan, membahas segala permasalahan. Silahkan saja bagi pengusaha food truck baru. Kami selalu membuka pintu untuk kalian,” katanya.

Ketika ditanya masih banyak pengusaha food truck yang tidak bergabung dalam komunitasnya, dia mengaku terus berusaha mengajak mereka untuk masuk. Karena jika mereka memiliki komunitas, dirinya dapat mengetahui kebutuhan dan aspirasi yang dikeluhkan pengusaha. Sehingga semuanya dapat tersampaikan melalui forum komunitas dan dapat dikoordinasikan dengan pemerintah terkait permasalahan dan hambatan yang mereka alami.

“Kami selalu mengajak pengusaha food truck liar untuk bergabung bersama dalam Komunitas Food Truck Semarang (KFS),” tandasnya. 

Jika bergabung dengan komunitas, jelasnya, pengusaha food truck liar tentu akan mendapatkan keuntungan. Selain bisa berkoordinasi dengan pemerintah, juga dapat berkoordinasi dengan komunitas food truck lain di berbagai daerah seperto Solo, Jogja, Jakarta dan Surabaya. Nantinya bisa mengikuti event atau berjualan di sana, tinggal menghubungi komunitas yang ada di daerah tersebut. Secara otomatis mereka langsung mencarikan lapak dagangan. (*/ida/JPG/fer

(rs/fer/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia