Minggu, 20 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Features

Cerita Christian Budhi Patmadi Hayu di Detik-Detik Kerusuhan Wamena

07 Oktober 2019, 14: 34: 09 WIB | editor : Perdana

CARI AMAN: Christian Budhi Patmadi Hayu ditemui di rumah orang tuanya.

CARI AMAN: Christian Budhi Patmadi Hayu ditemui di rumah orang tuanya. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)

Share this      

Kerusuhan di Wamena, Papua yang terjadi beberapa hari terakhir membuat salah seorang warga perantauan asal Jaten, Karanganyar kembali ke kampung halamannya. Seperti apa kisahnya,

RUDI HARTONO, Solo, Radar Solo

CHRISTIAN Budhi Patmadi Hayu, 41 tak menyangka akan merasakan pengalaman hidup yang menegankan saat merantau di tanah Papua. Dia salah satu warga Karanganyar yang eksodus dari Wamena saat terjadi kerusuhan beberapa hari terakhir.

Hayu, sapaan akrabnya sudah merantau ke Jawawijaya, Papua sejak 2008. Hingga akhirnya dia diangkat menjadi Aparatus Sipil Negera (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya pada 2009 lalu. Saat kerusuhan terjadi, dia berhasil menyelamatkan diri dan kembali ke rumah orang tua di Dusun Tegal, RT 1 RW 1, Desa/Kecamatan Jaten.

Di Wamena, Hayu tinggal di Jalan Yos Sudarso RT 006/RW 004, Desa Wamena Kota, Kecamatan Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Detik-detik sebelum kerusuhan terjadi masih dia ingat dengan jelas. Saat itu Senin (23/9) pagi, Hayu melaksanakan pekerjaan rutin sebagai staf. Dia mendapat tugas ke kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Kabupaten Jayawijaya untuk mengurus berkas. Belum ada tanda-tanda akan ada aksi demonstrasi pagi hari.

”Tidak lama berselang terdengar keributan, ternyata ada unjuk rasa. Di dekat kantor bupati yang tak jauh dari kampus. Tujuan mereka memang ke kantor bupati. Saat itu masih bisa dikendalikan oleh aparat. Lalu ada yang bilang perkelahian dan muncul asap di kantor bupati bagian belakang. Api merembet hingga bagian depan pas siang,” kata Hayu.

Menjelang siang, massa unjuk rasa bertambah banyak. Pelajar, mahasiswa hingga kalangan masyarakat memenuhi kantor Bupati Jayawijaya. Beberapa orang di antaranya terlihat membawa pedang panjang dan panah. Sasaran mereka kendaraan dinas dan pribadi yang diparkir di halaman kantor bupati. 

Melihat kerusuhan itu, Hayu langsung bergegas ke kosnya yang berjarak sekitar 1 kilometer dari kantor kabupaten. Dengan melewati massa yang unjuk rasa, Hayu berhasil menuju ke kos. Dia langsung mengemasi barang berharganya, terutama surat penting seperti SK CPNS dan SK PNS.

”Begitu massa semakin ricuh, ada instruksi dari aparat keamanan untuk mengamankan diri. Kemudian saya ikut ke barak pengungsian. Di sana satu pekan, kami didata. Kemudian ada kabar kalau kantor bupati tutup hingga batas waktu tidak ditentukan karena kondisi gawat,” imbuhnya.

Selama perantauannya di Wamena, dia baru pertama kali melihat kekacauan seperti pagi itu. ”Ada perkelahian, rusuh tapi tidak pernah seperti yang kemarin itu. Ada korban tewas kan katanya. Saya tidak bisa menghubungi relasi. Warga sipil sampai diungsikan, bahkan dievakuasi keluar wilayah Papua. Kemudian saya dapat giliran naik Hercules rutenya Wamena-Jayapura-Timika-Ambon-Makassar-Malang. Dua jam perjalanan. Dan peraturannya hanya diperbolehkan membawa satu tas naik pesawat,” tandasnya.

Hayu tiba di Kota Solo pada Jumat (4/10) setelah dijemput Dinas Sosial Provinsi Jateng di Malang pada Kamis (3/10). Dia berharap bisa kembali ke Wamena seperti sediakala. Apalagi warga setempat memperlakukan pendatang dengan baik. (*/rud)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia