Kamis, 23 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Klaten

Buntut Tewasnya Warga, Penutupan Perlintasan Maut Diprotes

07 Oktober 2019, 18: 01: 23 WIB | editor : Perdana

GERAK CEPAT: Petugas PT KAI menutup perlintasan maut di Kampung Srago Gede, Mojayan, Klaten Tengah, Sabtu (5/10).

GERAK CEPAT: Petugas PT KAI menutup perlintasan maut di Kampung Srago Gede, Mojayan, Klaten Tengah, Sabtu (5/10). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Penutupan perlintasan maut di Kampung Srago Gede, Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah, Sabtu (5/10) menuai protes. Buntut tewasnya Suratman, 60, warga Desa Pepe, Kecamatan Ngawen karena tertabrak kereta api (KA) saat melintas dengan sepeda motor. Warga sekitar merasa keberatan karena harus memutar cukup jauh menuju kawasan perkotaan Klaten.

Penutupan perlintasan maut dilakukan petugas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 6 Jogjakarta. Perlintasan ditutup secara permanen menggunakan besi.

“Perlintasan ini sudah ada sejak lama. Dimanfaatkan warga dan pengendara motor yang hendak ke Kota Klaten. Kami sebagai warga keberatan sekali. Karena harus memutar jauh,” keluh Kisyanto, pemilik bengkel dekat perlintasan kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (6/10).

Kisyanto menambahkan, seharusnya warga sekitar diajak duduk satu meja. Sebelum perlintasan ditutup permanen. “Secara etika, sosialisasi dulu sebelum ditutup. Kalau seperti ini, warga sini terpaksa memutar 2 km. Lewat Mojayan atau jalan bypass. Kasihan anak-anak yang sekolah,” imbuhnya.

Diakui Kisyanto, sejak 2012-2019 sudah terjadi empat kecelakaan yang melibatkan sepeda motor dan KA. Bahjan tahun ini sudah terjadi dua kali dengan seorang korban meninggal dunia. Meminimalkan kecelakaan, warga berinisiatif membuat sirene secara mandiri. Sirene dibunyikan saat KA hendak melintas. 

“Kami sebagai warga berharap segera ada solusi dari PT KAI. Mintanya ya warga tetap bisa melintasi perlintasan itu. Tetapi dengan jalur yang lebih aman,” bebernya.

Saat dikonfirmasi, Kaur Rel PT KAI Daop 6 Jogjakarta Risriyadi menjelaskan, penutupan perlintasan maut di Kampung Srago Gede sudah sesuai program yang direncanakan. Diharapkan setelah penutupan, tidak ada lagi jatuh korban jiwa.

“Sudah ada beberapa perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Klaten yang ditutup. Dengan yang Srago Gede ini berarti sudah ada empat titik ditutup. Penutupan kami lakukan bertahap,” jelasnya.

Secara prosedural, lanjut Risriyadi, penutupan perlintasan KA tanpa palang pintu merupakan tanggung jawab pemerintah daerah setempat. Namun karena masih ada kaitannya dengan perlintasan KA dan keselamatan, maka penutupan dilakukan petugas PT KAI.

“Ke depannya, intensitas kereta api yang melintas cukup tinggi. Apalagi ada rencana beroperasinya kereta api listrik (KRL) Solo-Jogja. Sudah pasti jalurnya semakin sibuk,” tandasnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia