Minggu, 20 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Features

Teguh Nikolas Saputra, Bocah 10 Tahun Jual Makanan-Minuman Keliling

08 Oktober 2019, 07: 05: 59 WIB | editor : Perdana

TANGGUH: Teguh Nikolas Saputra memanggul es menuju sekolahnya.

TANGGUH: Teguh Nikolas Saputra memanggul es menuju sekolahnya. (AKHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

Di usia belia, Teguh Nikolas Saputra harus bekerja keras membantu ekonomi keluarganya. Bocah 10 tahun ini setiap hari berjualan nasi dan es di sekolah dan keliling desa. Seperti apa keseharian bocah ini?

AHMAD KHAIRUDIN,  Sragen, Radar Solo

DI usianya yang baru menginjak 10 tahun, Niko biasa dia disapa tetap semangat membantu ekonomi keluarga. Siswa kelas 4 SDN Banyurip 3, Kecamatan Jenar ini sehari-hari berkeliling berjualan es kucir dan nasi bungkus. Dia rela berjalan kali dari rumah ke sekolah sambil membawa dagangan sepanjang 2,5 kilometer. 

Setiap hari dia selalu menjalani rutinitas membawa nasi bungkus dan termos es ke sekolah. Dagangan ini dijual di lingkungan sekolah. Sebelum pergi ke sekolah, putra dari pasangan suami istri Fery, 29,  dan Giyem, 33, ini selalu menyiapkan dagangannya. Es dan nasi bungkus ini ditawarkan ke teman-temannya di sekolah dan warga di rute di berangkat dan pulang sekolah. 

 ”Saya bawa ke sekolah. Yang beli teman-teman saya di sekolahan. Kalau masih tersisa saya jual keliling sambil pulang ke rumah,” ujar bocah yang tinggal di Dusun Kedu, Desa Banyurip, Kecamatan Jenar, Sragen ini.

Alasan dia berjualan nasi dan es ini demi membantu sang ibu dan adiknya. ”Tidak malu. Ini untuk membantu ibu. Sebab, ibu di rumah harus merawat adik. Bapak merantau di Jakarta bekerja serabutan,” ujar Niko yang mengaku sudah setahun menekuni jualan nasi dan es ini. 

Bocah yang bercita-cita ingin menjadi tentara ini tidak peduli pendapat orang.  Selama yang dilakukannya baik dan berniat membantu orang tua tidak perlu malu. Apalagi selama ini ibunya tidak punya pekerjaan tetap.   

Orang tua Niko, Giyem sempat melarang Teguh berjualan es sambil sekolah. Namun karena kemauan keras dia membantu pendapatan keluarga,  akhirnya dia tak berdaya mencegahnya. ”Sudah pernah saya larang, tapi anaknya bersikeras.  Dia pengin bantu ibunya,” kata Giyem. 

Giyem juga hanya bisa pasrah dengan apa yang dikerjakan Teguh. Selama apa yang dilakukan anaknya positif dia mendukungnya. ”Itu kemauan anaknya langsung. Katanya hasilnya buat bantu ibu dan adiknya. Ayahnya merantau di Jakarta kerja serabutan,” terangnya. 

Sementara itu guru di SDN 3 Banyurip Retno Wijayanti membenarkan jika Niko setiap hari memang berjualan es di sekolah. Pihak sekolah sempat menyarankan agar dagangannya dititipkan di kantin.  Namun bocah itu menolak dan bersikeras membawa dagangannya ke kelas. ”Sudah ada satu tahun sejak kelas 3. Dulu pertama jualan nasi bungkus sekarang tambah jualan es,” jelasnya. (*/bun)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia