alexametrics
Rabu, 02 Dec 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Streptomyces Sp : Bakteri  Penghasil Antibiotik

09 Oktober 2019, 12: 31: 16 WIB | editor : Perdana

Ambarwati

Ambarwati

Share this      

Oleh: Ambarwati, Staf pengajar Prodi Kesmas FIK UMS yang juga mahasiswa S3 Fakultas Biologi UGM 

BILA kita berbicara tentang mikroba, khususnya  bakteri,  sebagian orang biasanya langsung menghubungkannya dengan penyebab penyakit. Orang mengenal Salmonella typhosa sebagai penyebab penyakit demam tifoid (tifus), Mycobacterium tuberculosis sebagai penyebab Tuberkulosis (TB) atau Vibrio cholera penyebab penyakit kolera. 

Namun perlu kita ingat bahwa Allah itu Maha Adil. Dia menciptakan sebagian mikroba yang menyebabkan penyakit (terutama penyakit infeksi), tetapi sesungguhnya Allah juga-lah yang telah menciptakan mikroba lain sebagai penghasil antibiotik.

Pengendalian penyakit infeksi di Indonesia selama ini masih mengandalkan penggunaan antibiotik. Tapi, dikarenakan penggunaan antibiotik yang irasional, maka menyebabkan terjadinya resistensi pada mikroba penyebab penyakit terhadap berbagai macam antibiotik yang telah ada. Fenomena ini mendorong para peneliti menemukan antibiotik baru melalui penelitian. 

Peran Streptomyces

Kehidupan mikroba menarik minat peneliti untuk mengkajinya. Hal ini dikarenakan mikroba merupakan sumber penghasil metabolit sekunder, termasuk antibiotik, yang bisa dieksplorasi sepanjang masa.

Berbagai macam antibiotik telah dihasilkan oleh beragam mikroba baik dari jenis bakteri maupun jamur. Saat ini, penelitian banyak difokuskan pada genus Streptomyces yang dikenal sebagai penghasil metabolit sekunder yang dapat berperan sebagai  antiviral, antiparasit, antitumor, anti oksidan, plant growth promoter, herbisida, dan pestisida. Bahkan anggota  Streptomyces dikenal sebagai penghasil antibiotik terbesar. Sekitar 75-80 persen antibiotik yang ada dihasilkan oleh  Streptomyces sp dan  66,7 persen di antaranya telah dimanfaatkan sebagai obat. 

Banyak antibiotik jenis baru yang telah dihasilkan oleh Streptomyces, misalnya  faqihmycin yang merupakan antibiotik jenis baru yang dihasilkan oleh Streptomyces violaceusniger. 

Penelitian penulis juga menemukan  enam spesies Streptomyces dari rizosfer rumput teki yang diisolasi dari dataran tinggi Cemoro Sewu yang berpotensi menghasilkan antibiotik. Hasil sikuens 16S rDNA dan analisis pohon filogenetik dari keenam isolat Streptomyces menunjukkan sebanyak tiga isolat memiliki hubungan kekerabatan dengan Streptomyces rochei,  satu isolat berkerabat dekat dengan S. variabilis, satu isolat memiliki similaritas dekat dengan S. diastaticus dan satu isolat berhubungan dekat dengan S. Luteogriseus.

Streptomyces sp termasuk domain bakteri, anggota kelas Actinomycetes dan genus Streptomyces. Mikoroba ini dapat ditemukan di berbagai lingkungan seperti kompos, air laut, mangrove, rizosfer, tanah dan sebagainya. Populasi Streptomycetes pada tanah mencapai 70 persen dan paling banyak ditemukan pada tanah hutan.

Meskipun Streptomyces sp termasuk anggota bakteri, namun bakteri ini memiliki ciri yang berbeda dengan bakteri lain pada umumnya. Jika bakteri lain bisa tumbuh dalam waktu 1 x 24 jam, Streptomyces sp memerlukan waktu tujuh hari sampai satu bulan untuk tumbuh.

Koloni Streptomyces sp kering, tidak seperti koloni bakteri pada umumnya yang berlendir, bahkan morfologi koloni beberapa Streptomyces sp lebih mirip dengan koloni kapang yang berbubuk atau pun bermiselium dari pada dengan morfologi bakteri pada umumnya.

Morfologi sel dari Streptomyces sp mempunyai ciri khas, yaitu batang bercabang (menyerupai juntaian akar pada tumbuhan) dan sangat berbeda dengan morfologi sel bakteri lain yang bisa batang, bulat atau spiral. Hasil pewarnaan Gram sel Streptomyces sp  berwarna ungu dan termasuk bakteri gram positif. 

Hasil pengamatan dengan SEM menunjukkan morfologi dan ornamen permukaan dari spora Streptomycetes sp. Spora umumnya membentuk rantai dengan panjang 3-50 spora. Morfologi rantai spora dapat dikelompokkan menjadi spiral, lurus atau lentur, sedangkan permukaan spora bisa dibedakan menjadi halus, berkutil, berduri atau berbulu.

Streptomyces sp bila ditumbuhkan pada medium Oatmeal Agar akan  menghasilkan warna baik pada aerial miselium maupun vegetatif miseliumnya. Pengujian kemampuan isolat Streptomyces dalam menghasilkan antibiotik dapat dilakukan dengan melakukan uji penghambatan isolat terhadap mikroorganisme uji, misalnya dengan metode agar blok.

Secara molekular, spesies  Streptomyces dicirikan dengan kandungan GC (Guanin, Citosin)  yang tinggi pada DNA-nya. Identifikasi secara molekular dapat dilakukan dengan mengisolasi DNA Streptomyces sp dan mensikuens 16S rDNAnya. Dari hasil sekuensing dapat direkonstruksi sebuah phylogenetic tree yang dapat memberikan gambaran tentang kekerabatan isolat Streptomyces tersebut dengan Streptomyces yang telah ada.

Untuk mengetahui potensi isolat Streptomyces dalam menghasilkan antibiotik dapat dilakukan dengan mendeteksin keberadaan gen pengkode antibiotik yaitu NRPS, PKS1, PKS2,  dan PKSe.

Dengan ditemukannya beragam antibiotik jenis baru, berarti memberikan harapan pengobatan di masa mendatang, dan memberikan bukti bahwa mikroorganisme merupakan sumber antibiotik yang tidak pernah habis untuk dikaji. 

(rs/aya/per/JPR)

 TOP