Minggu, 20 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Jelang Musim Tanam, Distribusi Pupuk Diawasi

09 Oktober 2019, 13: 05: 38 WIB | editor : Perdana

SIAP MENANAM: Sejumlah petani Sragen mencabut bibit padi untuk ditanam.

SIAP MENANAM: Sejumlah petani Sragen mencabut bibit padi untuk ditanam. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Menjelang musim tanam, pihak produsen pupuk mulai mengantisipasi kelangkaan puput. Apalagi Sragen termasuk salah satu penyangga pangan Provinsi Jawa Tengah.

Manager Humas PT. Petrokimia Gresik Muhammad Ihwan menyampaikan, selama ini sudah dilakukan evaluasi terkait penyaluran pupuk bersubsidi. Seperti masih ada petani yang belum masuk dalam kelompok tani, namun mendesak untuk mendapat pupuk bersubsidi.

Selain itu alokasi pupuk memang belum mencerminkan kebutuhan riil di lapangan. Lantaran ada kelompok tani yang belum terdaftar di Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Selain itu ada kios penyalur yang belum lengkap administrasi penjualan pada kelompok tani.

”Kalau administrasi tidak benar kami yang rugi. Dari kementerian ada tim yang mengecek. Semisal kita sudah 100 persen menyalurkan pupuk bersubsidi, namun jika administrasinya hanya 70 persen yang benar, yang dibayar ke kami hanya 70 persen. Sama saja sisanya kita kehilangan pembayaran,” terangnya.

Bahkan ada kios tidak resmi yang menjual pupuk bersubsidi. Atau ada pihak-pihak yang menyalurkan pupuk bersubsidi keluar daerah. ”Di Sragen sempat ada satu kios, namun sudah ditangani kepolisian. Untuk yang itu kita hentikan kerjasamanya,” terang Ihwan.

Sedangkan masalah teknis, masih ada penggunaan pupuk yang melebihi dosis anjuran. Oleh sebab itu intensitas dan efektifitas pengawasan pupuk bersubsidi perlu ditingkatkan.

Ihwan menyampaikan untuk Sragen pihaknya menyalurkan pupuk bersubsidi jenis ZA, SP-36, NPK Phonska, dan Petroganik. Sedangkan Urea bersubsidi disokong perusahaan lain.

”Sebenarnya pemerintah memberi perhatian untuk daerah penyangga pangan, seperti Subang, Karawang, termasuk Sragen di Jawa Tengah,” bebernya.

Dari perusahaan sendiri pada musim tanam Oktober-Maret mengeluarkan stok empat kali lipat lebih banyak dari ketentuan pemerintah dalam skala nasional. Total keseluruhan ada 787.280 ton stok pupuk bersubsidi. Ketentuan minimum pemerintah yakni 188.018 ton.

Pihaknya menyampaikan selain pupuk bersubsidi, juga menyediakan pupuk non subsidi. Subsidi diperuntukkan bagi petani yang tercatat di RDKK. Sedangkan non subsidi untuk petani yang tidak masuk RDKK. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia