Minggu, 20 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Dinkes Wonogiri Pastikan Tak Pakai Ranitidin

10 Oktober 2019, 15: 19: 32 WIB | editor : Perdana

LAYANAN KESEHATAN: Aktivitas pasien di IGD dr. Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri.

LAYANAN KESEHATAN: Aktivitas pasien di IGD dr. Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri memastikan tidak memakai obat-obatan yang mengandung ranitidin. Belakangan diketahui obat yang memiliki indinasi untuk menurunkan asam lambung itu tercemar senyawa N-nitro-sodimethylamine (NDMA) yang bersifat karsinegenik atau memicu kanker.

Kepala Dinkes Wonogiri Adhi Dharma menyatakan telah menerima surat edaran dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait penarikan obat tersebut. 

“Untuk Puskesmas saat ini tidak menggunakan obat-obat tersebut. Yang kita pakai adalah obat generik di e-katalog,” jelasnya.

Dinkes juga telah menyampaikan informasi dari BPOM kepada apotek, klinik maupun dokter praktik pribadi agar tidak meresepkan atau menjual obat yang mengandung ranitidine

"Dalam lampiran surat BPOM dijelaskan, ranitidin yang diperintahkan ditarik karena terdeteksi NDMA yakni ranitidine cairan injeksi 25 mg/ml. Zantac cairan injeksi 25 mg/ml, Rinadin sirup 75 mg/5ml, Indoran dan cairan injeksi 25 mg/mL," beber dia.

Keputusan penarikan ranitidin merupakan buntut temuan Badan Kesehatan Amerika, US FDA dan EMA (European Medicines Agency) yang menyatakan senyawa ranitidine tercemar NDMA dan dapat memicu kanker.

BPOM saat ini sedang melakukan pengambilan dan pengujian beberapa sampel  produk ranitidin. Hasil uji sebagian sampel mengandung cemaran NDMA dengan jumlah melebihi batas yang diperbolehkan. Karena itu, BPOM memerintahkan industri farmasi pemegang izin edar produk tersebut melakukan penghentian produksi dan distribusi serta melakukan penarikan kembali (recall) seluruh bets produk dari peredaran. (kwl/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia