Minggu, 20 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Pemisahan Mapel PKn & Pendidikan Penanaman Nilai Pancasila Belum Jelas

10 Oktober 2019, 15: 46: 36 WIB | editor : Perdana

TUNTUT ILMU: Pelajar di Wonogiri bersiap mengikuti kegiatan di sekolah. 

TUNTUT ILMU: Pelajar di Wonogiri bersiap mengikuti kegiatan di sekolah.  (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Pemerintah pusat mewacanakan memisahkan mata pelajaran (mapel) Pendidikan Penanaman Nilai Pancasila dari mapel Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Selama ini, kedua materi tersebut menyatu menjadi satu mapel. Namun, hingga kini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wonogiri belum mendapatkan instruksi lebih lanjut.

“Belum ada kabar lagi. Nanti kalau sudah positif kami informasikan,” terang Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri Sriyanto, Rabu (9/10).

Terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Wonogiri Sriyono menyambut baik wacana tersebut guna mengajarkan kembali nilai-nilai Pancasila dan budi pekerti kepada generasi milenial. “Kemasannya harus kekinian. Harus lebih membumi,” katanya.

Menurut Sriyono, kondisi masyarakat saat ini mulai menjauh dari tata nilai Pancasila. “Tata kehidupan bermasyarakat jauh dari nilai nilai Pancasila yang dulu digali dari bangsa Indonesia sendiri,” terangnya. 

Sekadar informasi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy berharap mapel Pendidikan Penanaman Nilai Pancasila memiliki bobot materi lebih besar sekaligus dengan implementasi pengamalannya.

“Evaluasi yang kami lakukan, materi Pancasila di dalam mapel Kewarganegaraan  lebih banyak ke ilmu pengetahuan. Bukan penanaman nilai dan implementasi pengamalannya. Karena memang mapel Kewarganegaraan lebih banyak materi pengetahuan. Padahal Pancasila soal penanaman dan pengamalan nilai-nilai,” beber Mendikbud saat berkunjung ke Kota Bengawan belum lama ini.

Selain itu, Presiden Jokowi juga mewacanakan memasukkan materi membatik di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal (mulok). Namun untuk memberlakukan di skala nasional, Muhadjir mengaku belum menentukan.

“Di Solo juga sudah jadi mulok (muatan lokal) kan? Di Jawa Tengah sudah, di Jawa Timur juga. Untuk nasional nanti akan kami lihat. Karena tidak semua daerah memiliki keunggulan lokal dalam sektor batik. Kan masing-masing daerah punya keunggulan sendiri. Muatan lokal kan intinya menonjolkan keunggulan daerah,” jelasnya. (kwl/aya/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia