Kamis, 20 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Eks Bupati Rina Jalani Asimilasi

11 Oktober 2019, 13: 18: 06 WIB | editor : Perdana

AKRAB: Bupati Karanganyar Juliyatmono, saat mengunjungi mantan Bupati Karanganyar Rina Iriani di Lapas Wanita Semarang, tahun lalu. 

AKRAB: Bupati Karanganyar Juliyatmono, saat mengunjungi mantan Bupati Karanganyar Rina Iriani di Lapas Wanita Semarang, tahun lalu. 

Share this      

KARANGANYAR – Mantan Bupati Karanganyar Rina Iriani Sri Ratnaningsih, kini bisa menghirup udara segar. Setelah beberapa tahun mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Bulu, Semarang, mulai awal bulan ini Rina menjalani program asimilasi (pembaruan narapidana dengan masyarakat, Red).  

Lewat program asimilasi ini, Rina Iriani diberikan kesempatan untuk mengajar sebagai guru di yayasan pendidikan anak Mijen, Kota Semarang. Program tersebut dilaksanakan selama setahun.

“Jadi setiap hari, Senin sampai Jumat, beliau diberikan kesempatan mengajar anak-anak di yayasan itu. Beliau masuk dan pulang kerja pada hari kerja,” terang Pengacara Rina Iriani, Bonafentura Loly saat dihubungi Jawa Pos Radar Solo, Kamis (10/10).

Dikatakan Loly, sapaan akrab Bonafentura Loly, dalam surat keputusan (SK) asimilasi yang diberikan kepada kliennya itu disebutkan asimilasi dimulai sejak 4 Oktober 2019 lalu. Namun, Rina baru bisa menjalani Rabu (9/10).

“Memang ada keterlambatan. Hal itu karena terkait pengurusan administrasi dan kesiapan dari pihak yayasan. Kalau SK itu sebenarnya turun setelah Lebaran lalu. Soal gaji, itu yang tahu adalah pihak yayasan. Saya tidak tahu menahu terkait hal itu,” jelasnya.

Rina sebelumnya terjerat kasus dugaan penyalahgunaan bantuan subsidi Perumahan Griya Lawu Asri (GLA) dari Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) pada Koperasi Serba Usaha (KSU) Sejahtera, Karanganyar 2007-2008. Akibatnya, negara mengalami kerugian Rp 18,4 miliar. 

Rina divonis 12 tahun penjara. Kemudian setelah melalui proses kasasi dan peninjauan kembali di Mahkamah Agung (MA), masa hukuman dia dipangkas menjadi 9 tahun. Denda dari semula Rp 1 miliar berkurang menjadi Rp 500 juta. Begitu pula uang pengganti dari semula Rp 11,8 miliar hanya Rp 7,8 miliar. “Total denda dan uang pengganti yang harus dibayarkan Rina menjadi Rp 8,3 miliar,” ujarnya. 

Sebelumnya, Rina sudah membayar uang pengganti dari barang yang dirampas beberapa waktu lalu Rp 1,48 miliar. Dengan demikian, Rina masih harus membayar denda Rp 500 juta ditambah sisa uang pengganti Rp 6,39 miliar. Total anggaran Rp 6, 89 miliar.

Rina membayar denda dan uang pengganti melalui dua pengacaranya dari Kantor Hukum Bonafentura Loly & Associates, yakni Bonafentura W.P. Loly dan Peter Sahanaya, pada Maret 2018 di Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar. (rud/bun)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia