Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Sri Wahono, Naik Ontel Keliling Indonesia Berbekal Keahlian Pijat

12 Oktober 2019, 16: 38: 02 WIB | editor : Perdana

BUKTI: Wahono menunjukkan buku catatan perjalanan dan surat perjalanan yang dilakukan sejak 1971, Jumat kemarin (11/10).

BUKTI: Wahono menunjukkan buku catatan perjalanan dan surat perjalanan yang dilakukan sejak 1971, Jumat kemarin (11/10). (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Share this      

Sri Wahono Margo Prayoga, 74, mulai berkeliling Indonesia sejak 1971. Berbekal keahlian memijat, pria ini nekat menaiki sepeda ontel miliknya tanpa merisaukan bekal uang. Dan seluruh catatan perjalanannya terarsip rapi dalam tulisan tangan. Seperti apa kisahnya? 

RAGIL LISTIYO, Sukoharjo, Radar Solo

DI usianya sudah memasuki senja, Wahono masih terlihat enerjik dan bersemangat. Di balik baju krem yang mulai menguning pria bertubuh kurus ini menunjukkan 13 buku catatan perjalanannya serta surat-surat perjalanan dia keliling Indonesia.

Pria kelahiaran 1945 ini mengaku memulai perjalanan keliling Indonesia ketika usianya menginjak 19 tahun. Kala itu jarak touring masih di daerah terdekat seperti Jogjakarta. Lalu pada 1971, dia membulatkan tekad melancong ke Jakarta.

“Saya coba pakai sepeda ontel jengki ke Jakarta tanpa berbekal uang. Waktu tempuh dua hari dua malam. Dari situ muncul ide bagaimana bisa tahu rupa dan seluk beluk Indonesia tanpa keluar biaya. Dan saya sudah punya bekal bisa pijat,” katanya.

Setelah berhasil ke Jakarta, Wahono kemudian mulai perjalanan di daerah Jawa, Madura dan Bali. Warga Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo ini kemudian melanjutkan ke perjalanan sampai ke Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi hingga Papua.

Bekal yang dibawanya hanya peta Indonesia, buku tulis, surat perjalanan, peralatan mandi dan beberapa setelan baju. Dia pun berinisiatif untuk mengarsipkan setiap perjalanannya dengan meminta cap tiap daerah yang dikunjunginya.

“Saya kini memiliki 13 buku dan beberapa akta perjalanan sebagai arsip perjalanan saya keliling Indonesia. Dari 13 buku itu, ada enam buku yang dibawa teman saya,” ungkapnya.

Catatan perjalanan tersebut ditulis tangan dan lengkap dengan cap milik pejabat pemerintah di daerah tersebut. Meski telah terlihat rapuh dan lusuh setiap catatan masih terbaca dan tersusun rapi. Cap dari lembaga yang dikunjungi seperti dari militer, dinas sosial, kantor kecamatan, resor kepolisian di Gorontalo, Sulawesi pada 1975, cap Kades Silanga, Sulawesi Tengah 1975 dan lainnya.

“Kalau di kota luar Jawa sepeda saya jual dan memilih jalan kaki. Baru kalau lanjut perjalanan saya beli sepeda lagi. Saya tidak khawatir kekurangan uang. Dengan bekal bisa memijat orang, saya bisa keliling Indonesia,” katanya.

Wahono mengaku bekal sakunya hanya dibawa secukupnya. Dan uang saku pertamanya didapat dari Sadikin Budikusumo, bupati Sukoharjo 1975. Nilainya saat itu Rp 15. Lalu setiap daerah yang dikunjunginya dia memperoleh bekal Rp 20.

“Perjalanan yang paling susah itu di Kalimantan Tengah ketika lewat dari Pangkalanbun (Kateng) menuju Nanga Tayap Kalbar. Karena tidak ada uang untuk naik kapal, saya terobos hutan dan makannya hanya pisang, apel, kelapa dan buah-buahan. Ketika lewat rawa-rawa itu kaki sudah banyak pacetnya,” ungkapnya.

Wahono mengaku tidak hanya pengalaman yang dia dapat. Namun, juga rupa Indonesia. Dia bisa melihat jika peradaban di tiap daerah berbeda-beda. Dan masing-masing daerah memiliki nilai sendiri. Dengan menjunjung setiap daerah, dia mengaku bisa membaur dengan suku manapun.

“Prinsipnya di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Di Papua para pendeta yang membantu perjalanan saya. Tak berbeda jauh di Jawa yang mayoritas Islam dan di pulau lain. Tanpa menilik apa agamanya, mereka menganggap saya saudara,” imbuhnya.

Wahono telah merampungkan ekspedisi keliling Indonesia pada 2008 lalu. Kini Wahono tinggal bersama istrinya Saparinah dan putrinya Puji Dewi Gede Ayu Rinjani di Sukoharjo. Hingga kini dia masih konsisten bersepeda ontel. Namun, bukan lagi keliling Nusantara, melainkan hanya wilayah eks Karesidenan Surakarta. (*/bun)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia