Jumat, 06 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Asosiasi Tekstil Dorong Pemerintah Bentuk Kementerian Pertekstilan

12 Oktober 2019, 17: 06: 22 WIB | editor : Perdana

BUTUH PEMIHAKAN: Industri rumahan kain tenun tradisional di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Industri tekstil lokal didorong untuk bersaing di pasar nasional dan internasional.

BUTUH PEMIHAKAN: Industri rumahan kain tenun tradisional di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Industri tekstil lokal didorong untuk bersaing di pasar nasional dan internasional. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengaku siap menghadapi persaingan global. Dengan catatan pemerintah mendukung pergerakan API. Seperti diutarakan Wakil Ketua API Jawa Tengah periode 2016-2019 Lilik Setiawan.

Lilik menyebut sudah saatnya industri tekstil saling berkolaborasi. Bersama organisasi, API sebagai stakeholder, serta pemerintah. Harapannya bisa memenangkan persaingan di tingkat global. API merasa jika organisasi atau perusahaan berjalan sendiri, langkah mereka bakal berat dalam mencapai kesuksesan di panggung internasional. 

Lewat kolaborasi tersebut, mampu memperkuat nilai tawar Indonesia sebagai negara produsen tekstil. API berharap pemerintah melalui kementrian terkait bisa membentuk dirjen khusus pertekstilan.

“Sampai saat ini tekstil hanya kasubdit. Bagaimana bisa berunding dengan kementrian lain? Mungkin saja yang punya perjanjian kerja sama dengan negara lain itu Kementrian Perdagangan atau Kementrian Pertanian. Kami butuh Kementrian Tekstil. Sehingga bisa berunding dengan kementrian yang lain,” papar Lilik kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (11/10). 

Tak sebatas kementrian saja, lanjut Lilik, melainkan juga ada safeguard atau tindakan pengamanan dalam perdagangan internasional. Bertujuan menjaga produk dalam negeri. Sebab dia menilai pasar impor mulai tidak sehat. 

Nah, safeguard ini sebagai bentuk pertanggungjawaban Indonesia kepada World Trade Organization (WTO). Jika hal tersebut terpenuhi, bakal berdampak positif bagi produksi maupun pasar dalam negeri. Sebab produk asal Indonesia bisa berputar di pasar lokal.

Sementara itu, Indonesia harus waspada dengan kondisi perekonomian dalam negeri. Mengingat sudah ada beberapa negara lain yang mengalami resesi ekonomi. Bahkan, sudah dua kuartal pertama tahun ini, pertumbuhan ekonominya minus. Pertumbuhan tekstil di kuartal pertama surplus USD 1 miliar. Artinya ada pertumbuhan sekitar 1,87 persen secara year on year (YoY). 

“Kami mencatat pada penutupan 2018, pendapatan dari ekspor tekstil sebesar USD 13 miliar. Tumbuh dari USD 12,58 miliar di 2017 untuk Jawa Tengah. Pertumbuhan pasar domestik juga menggembirakan, yaitu USD 13 miliar,” tandas Lilik. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia