Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Bupati Dikritik Karena Kekeringan dan Gagal Panen

12 Oktober 2019, 17: 34: 18 WIB | editor : Perdana

MAKAN BARENG: Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat menemui petani beberapa waktu lalu.

MAKAN BARENG: Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat menemui petani beberapa waktu lalu. (AHMAd KHAIDURIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati terbuka menerima kritik sejumlah tokoh terkait hasil panen pertanian saat musim kemarau. Terutama di wilayah utara Sungai Bengawan Solo yang setiap musim kemarau kekurangan air untuk pertanian.

”Itu bagian dari kritikan, karena pada dasarnya gagal panen banyak faktor. Kami terima dan ditunggu juga sarannya,” terang bupati yang akrab disapa Mbak Yuni itu, kemarin.

Pihaknya menyampaikan tidak lepas tangan dengan masalah kekurangan air di wilayah utara Bengawan. Pasti ada program dan upaya untuk perhatian pertanian dan kebutuhan air bersih di utara Bengawan. Salah satunya mengupayakan sumber air di Kuterjo RT 20 Kelurahan Kedawung, Kecamatan Mondokan, Kamis (10/10). Penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) itu merupakan hasil sumbangsih dari CSR salah satu perusahaan untuk menanggulangi kekeringan.

Kepala Dinas Pertanian Eka Rini Mumpuni menyampaikan, tak henti mengimbau petani agar mengganti padi dengan palawija jika kesulitan air.

”Kalau wilayah yang kesulitan air, jangan dipaksakan padi. Harus ganti palawija, jika tidak hasilnya juga tidak maksimal,” terang Eka.

Pihaknya selalu menghimbau wilayah yang rentan kesulitan air hendaknya mengganti dengan palawija. ”Untuk daerah tertentu masih bisa menggunakan sumur, namun juga akan menambah biaya,” jelasnya.

Sebelumnya Suram Mustofa salah satu tokoh dari utara Bengawan memberi kritikan di bidang pertanian. Bencana kekeringan yang mengakibatkan banyak petani di utara Bengawan gagal panen, selama ini nyaris tanpa ada perhatian dan penanganan.

”Utara bengawan gagal panen karena kesulitan air, selama beberapa tahun kan nggak pernah tertangani. Kekurangan air, hanya dibantu tandon, tapi hampir setiap tahun terjadi juga nggak bisa teratasi,” tuturnya. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia