Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

PDIP Siap Hadapi Independen, Partai Lain Masih Anteng

13 Oktober 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : Perdana

CAIR: General Manager Radar Solo Ananto Priyatno menerima kunjungan pengacara Henry Indraguna dan keluarga kemarin (12/10).

CAIR: General Manager Radar Solo Ananto Priyatno menerima kunjungan pengacara Henry Indraguna dan keluarga kemarin (12/10). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Munculnya tiga nama yang akan maju sebagai bakal calon wali kota dan wakil wali kota Surakarta 2020 melalui jalur independen dinilai DPC PDIP tak terlalu berpengaruh terhadap perolehan suara partai nantinya. Partai berlambang banteng moncong putih itu mengaku siap menghadapi siapa saja dan berapa pun lawannya.

Kesiapan tersebut disampaikan DPC PDIP Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo. Pria yang juga wali kota Surakarta tersebut mempersilakan siapa pun mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surakarta sebagai bakal calon wali kota.

“Nggak apa-apa. Kan itu diatur dalam undang-undang. Kita eneke mung siap karo siap (kita adanya hanya siap dan siap), berapa pun calonnya,” katanya, Sabtu (12/10).

PDIP, imbuh Rudy, juga tak pernah khawatir jika ada kabar bahwa lawan memiliki modal financial besar. Menurutnya, modal rupiah sebesar apa pun tak dapat menggoyahkan barisan yang telah disusun rapi sejak beberapa bulan lalu.

“Saya nggak perlu modal itu (uang). Militansi kader PDIP sudah tidak diragukan lagi, itu modalnya,” tegas dia.

Lebih lanjut diterangkan Rudy, rapor pemerintahan di bawah kepemimpinannya bersama PDIP selama ini dianggap baik. Itu dibuktikan dengan perubahan positif di berbagai aspek. Mulai dari pelayanan masyarakat, infrastruktur, hingga program-program yang menyentuh langsung kepentingan masyarakat.

“Terbukti tho kita naik dari 24 (kursi dewan) sekarang jadi 30. Berarti kebijakan itu berjalan dan diterima. Dulu bagaimana, sekarang jadi bagaimana kan terlihat,” terangnya.  

Sementara itu, partai selain PDIP belum menunjukkan geliatnya. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai pemilik kursi dewan terbanyak kedua  masih menggodok sejumlah nama untuk diadu di kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020. 

Begitu juga Partai Amanat Nasional dan Partai Golkar yang hingga kini belum menentukan sikap. Sementara pemilik satu kursi DPRD, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) masih mendukung putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka untuk bertarung dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Di lain sisi, Henry Indraguna yang sudah mengambil formulir pencalonan independen ke KPU Surakarta menuturkan, kemajuan Kota Solo dalam dua dekade terakhir dirasa berjalan lambat. Itu disebabkan minimnya inovasi yang dilakukan oleh pemerintah. Untuk melakukan percepatan, dibutuhkan niat baik dari pemimpinnya.

Niat baik tersebut salah satunya adalah kemauan belajar teknologi informasi. Hal itu dirasa penting untuk mengikuti kemajuan teknologi yang saat ini tak terbendung. “Zaman sekarang yang dibutuhkan nggak hanya commerce, tapi sudah harus e-commerce. Kalau nggak mau mengikuti itu, mati,” ucap pria yang berprofesi sebagai pengacara itu saat berkunjung ke kantor redaksi Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Dia membandingkan kondisi Kota Solo saat ini dengan Kota Jogjakarta. Menurut Henry, dua puluh tahun silam, kondisi Jogjakarta sama persis dengan Kota Solo. Namun, saat ini, perubahan yang dilakukan Kota Gudeg begitu masif. Selain Kota Pendidikan, Jogja menjadi Kota Pariwisata dan Kebudayaan yang menjadi tujuan wisata serta investasi.

“Solo bagaimana setelah 20 tahun? Ngono-ngono wae (begitu-begitu saja). Jalan Slamet Riyadi dari dulu sampai sekarang ya ngono-ngono, Nonongan dari dulu sampai sekarang ya ngono-ngono kuwi,” ujarnya.

Menurutnya perlu kebijakan strategis agar Kota Bengawan berkembang namun tetap memiliki karakter budaya yang kuat. “Saya ingin Kota Solo menjadi kota metropolitan yang berbudaya. Dimulai dari mana? Dimulai dari pemimpinnya,” kata Henry.

Pemimpin Solo ke depan harus memiliki pandangan yang luas, memiliki visi maju dan terbuka, serta memahami teknologi informasi. Tanpa itu, perubahan diyakini tidak bakal terjadi. 

Untuk mendapatkan karakter pemimpin tersebut, lanjut Henry, butuh sikap tegas masyarakat dalam menentukan siapa kepala daerahnya. “Sekarang tergantung masyarakatnya mau berubah apa nggak? Kalau Solo masih dipimpin oleh politisi yang kolot, ya nanti nggak berubah. Kuwi maneh-kuwi maneh, ngono maneh-ngono maneh (itu lagi itu lagi, begitu lagi begitu lagi),” tegasnya.

General Manager Jawa Pos Radar Solo Ananto Priyatno menuturkan, seorang pemimpin harus memiliki visi dan misi besar membangun Kota Solo. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia