Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Indonesian Blades (IB) Chapter Soloraya, Komunitas Pecinta Pisau

13 Oktober 2019, 17: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Indonesian Blades (IB) Chapter Soloraya, Komunitas Pecinta Pisau

Pisau kerap dianggap sebagai benda tajam yang berbahaya dan harus dihindari. Namun ada keindahan yang menarik dari sebilah pisau. Itu anggapan Indonesian Blades (IB) Chapter Soloraya.

PISAU bukanlah barang yang bisa diletakkan di sembarang tempat. Keberadaannya harus disimpan secara hati-hati. Namun alih-alih dijauhkan dari aktivitas sehari-hari, komunitas Indonesian Blades (IB) Chapter Soloraya justru menganggap pisau mempunyai nilai lebih. Mereka berusaha menepis anggapan miring tersebut.

”Menurut kami di dalam sebilah pisau itu memiliki soul. Soul ini terbentuk mulai dari jenis bahan, metode pembuatan, serta peruntukannya,” kata Ketua IB Chapter Soloraya, Wartono kepada Jawa Pos Radar Solo.

Knive is a tool. Pisau adalah alat. Wartono mengakui pisau termasuk senjata tajam. Namun ada edukasi seputar penggunaan pisau. Agar tidak berbenturan dengan Undang-Undang Kedaruratan. Wartono menyebut ada beberapa attitude atau etika dalam membawa bilah pisau.

”Pembawaan pisau atau bilah harus dalam keadaan tertutup sarung pisau dan terbungkus rapat. Serta diletakkan dengan tidak mencolok, seperti ditaruh di dalam tas dengan keadaan tertutup. Kami membekali member dengan wawasan tersebut,” jelasnya.

Kepemilikan senjata tajam harus mendapat izin. Sementara izin tidak bisa didapatkan oleh masyarakat sipil pada umumnya. Untuk itu, dalam tiap kegiatan yang terkait dengan event pisau, Wartono biasa meminta surat jalan ke pihak kepolisian terdekat sesuai dengan area atau wilayah hukum masing-masing member.

”Member tidak ada kewajiban memiliki pisau, tapi bisa dipastikan mereka semua memiliki pisau. Karena sebelumnya sudah ada kecintaan terhadap bilah,” sambungnya.

Bagi sebagian masyarakat, orang yang memiliki ketertarikan terhadap pisau masih dianggap tak wajar. Label sebagai orang yang tidak baik sedikit banyak masih melekat. Wartono dan member lain menepis anggapan miring tersebut. Edukasi ke masyarakat mereka lakukan dengan mengadakan berbagai kegiatan positif.

”Kami menggandeng pandai besi lokal untuk memberikan wawasan baru soal custom pisau. Sementara ke masyarakat luas, kami mengedukasi dengan cara menggunakan pisau dengan tepat. Dan menegaskan bahwa pisau adalah alat bantu. Member kami bukan orang jahat. Itu bisa kami buktikan dari sikap atau attitude kami di masyarakat,” ungkapnya.

Memang salah jika menilai member IB sebagai orang jahat. Sebab, beragam kalangan tergabung menjadi member IB. Sebut saja, aparatur sipil negara, aparat penegak hukum, pegawai pemerintah di bidang kesehatan, anggota SAR, dan masyarakat umum lainnya. Lanjut Wartono, tidak semua penggemar pisau adalah seorang kolektor. Sebab pisau bisa menjadi media bisnis.

”Pangsa pasar di Indonesia sangat besar. Ada anggota yang sudah mengekspor hasil karya pisaunya ke luar negeri. Prospek bisnis di bidang penjualan pisau sangat menjanjikan. Mulai dari pembuatan bilah, sarung, handle, dan lain sebagainya,” tandasnya. (aya/adi

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia