Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Sisi Lain Para Supeltas di Tengah Beraksi di Jalanan 

14 Oktober 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Perdana

MISI SOSIAL: Rahmad Kartolo mewakili supeltas (kanan) di warung Rumini yang mereka bantu.

MISI SOSIAL: Rahmad Kartolo mewakili supeltas (kanan) di warung Rumini yang mereka bantu. (SILVESTER KURNIAWAN)

Share this      

Menjadi sukarelawan pengatur lalu lintas (supeltas) masih sering dipandang sebelah mata. Namun, semua itu tidak menggoyahkan mereka tetap bekerja membantu masyarakat tanpa minta bayaran. Bahkan, sikap dermawan ini juga mereka lakukan untuk membantu kaum duafa. Seperti apa kiprahnya?

SILVESTER KURNIAWAN, Sukoharjo, Radar Solo

BERKUNJUNG ke warung makan milik Rumini, 55, di Jalan Veteran Perang Kemerdekaan (utara Stadion Mini Bekonang, Sukoharjo), koran ini langsung disuguhi pemandangan warung makan pinggir jalan ala kadarnya. 

Di sana, perkakas masak membaur jadi satu dengan perlengkapan tidur yang ditata rapi di bawah meja untuk melayani pelanggan. Berdirinya warung ini tidak terlepas dari peran para supeltas melalui Yayasan Supeltas Indonesia. 

Mereka secara sukarela dan bergantian setiap hari meluangkan waktu membenahi warung sederhana ini. Hingga akhirnya berdiri sebuah warung sederhana dari bambu dan terpal seperti sekarang. “Dua pekan ini sudah mulai jualan. Alhamdulillah dibantu bapak-bapak supeltas dan diberi modal untuk jualan juga dari mereka,” ujar Rumini.

Rumini bercerita, sebelum dibantu para supeltas, dulu dia sempat dikejar-kejar penagih utang. Tanpa sengaja dia ketemu salah satu supeltas. Kemudian diajak ke basecamp mereka. Rumini lalu bercerita soal beban ekonomi yang harus dia tanggung. 

Janda yang baru tiga tahun ini bercerai dengan suaminya ini mengaku harus banting tulang siang dan malam demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dia dan anaknya. “Pagi saya jadi pembantu rumah tangga mula pukul 08.00 sampai 16.00. Lalu setelah itu kerja di wedangan di kawasan Banjarsari sampai pukul 01.00,” jelas dia.

Setelah itu dia harus balik dari kawasan Banjarsari, Solo menuju kontrakan kawannya di Mojolaban, Sukoharjo. Di sana dia menumpang di sepetak kontrakan kawan baiknya itu. “Saya itu asli Sragen. Di sini dulu sama suami lalu cerai. Dari situ saya hidup sendiri. Kalau anak sudah berumur 20 tahunan dan sudah kerja. Kadang juga tengok saya ke sini,” jelas dia.

Sebelum menumpang di kontrakan kawannya, Rumini sempat tinggal di bangunan semi permanen di pinggir jalan. “Saya tinggal di bangunan kecil bekas warung, tapi sudah digusur sama yang punya tanah. Setelah itu menumpang di kontrakan teman ini,” jelas dia.

Beruntung di sebuah kesempatan, Rumini bertemu supeltas. Dari pertemuan itu, dia mampu menyambung hidup seperti sekarang. Mengingat dua pekan ini, bangunan dari bambu dan terpal yang jadi tempat peruntungannya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus rumah tinggal sementara saat malam datang mulai diperbaiki. 

“Ya untung dibuatkan warung sama supeltas. Di sini saya jualan, juga diberi modal. Dan saya bersyukur karena sudah ada tempat untuk tidur waktu malam,” kata dia.

Dilihat dari berbagai sudut, bangunan itu sangat sederhana. Atapnya hanya ditutupi selembar terpal warna biru. Dindingnya pun hanya dari MMT bekas yang disambung jadi satu. Untuk menghalangi dari dinginnya malam, dia hanya sekadar bisa memasang selembar tripleks demi menghalau tiupan angin sawah yang cukup kencang. 

“Kemarin kena angin atapnya terbuka lagi. Saya minta bantuan bapak-bapak supeltas lagi untuk memperbaiki,” ucap Rumini. 

Meski hidup pas-pasan, perempuan ini masih mau bersedekah tiap pekan. Mengingat warungnya itu pun didapat dari santunan para supeltas yang rela menyisihkah penghasilan mereka demi membantu orang membutuhkan seperti dia. Karena itu, dia juga ingin berbuat sosial. “Kalau Jumat semua yang makan dan minum di sini cukup bayar seribu. Walau bagaimana kondisinya tetap harus berbagi kepada sesama,” ujar Rumini.

Salah satu anggota komunitas supeltas, Rahmad Kartolo, 47, membenarkan para supeltas yang bergabung dalam yayasan mulai membuat gerakan membantu janda telantar di sekitar mereka. Salah satunya seperti membantu warung makan Rumini.

“Kami ingin melahirkan warung-warung barokah lainnya agar bisa membantu janda-janda telantar lainnya yang masih membutuhkan uluran bantuan. Sementara ini dari hal-hal sederhana dulu,” papar dia.

Niat baik para supeltas membantu kaum duafa ini bukan berarti selalu berjalan mulus. Bahkan, pernah niat baik mereka ini malah menjadi ajang modus penipuan. “Sebelum ini ada seorang mantan PSK (pekerja seks komersial) minta bantuan. Setelah kami survei ternyata memang butuh bantuan dan ada niat baik untuk bekerja halal. Lalu kami tanya pengin kerja apa, katanya mau jualan lotis,” jelas Kartolo.

Akhirnya para supeltas ini mulai patungan. Dana sebesar Rp 2,5 juta yang terkumpul dibelikan sebuah gerobak kaca dan payung PKL ukuran besar. Barang langsung disalurkan. Tiga hari kemudian, para supeltas sengaja berkunjung ke kos milik perempuan itu untuk memberikan modal dagang dari patungan juga. Sayang dia sudah kabur dengan gerobaknya itu. 

“Dari kejadian itu kami makin selektif dalam memberikan bantuan. Kami tidak kapok berbuat baik,” jelas dia. (*)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia