Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Dinkes Tarik Penjualan Obat Prekursor Tanpa Izin

14 Oktober 2019, 15: 02: 52 WIB | editor : Perdana

SIDAK: Tim Satuan Reserse Narkoba Polres Karanganyar mengecek obat – obatan yang dijual di salah satu toko modern.

SIDAK: Tim Satuan Reserse Narkoba Polres Karanganyar mengecek obat – obatan yang dijual di salah satu toko modern. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)

Share this      

KARANGANYAR – Toko modern maupun toko kelontong kini tak bisa menjual obat sembarangan. Khusus untuk penjualan obat mengandung zat atau bahan kimia kategori prekursor, harus mendapat izin dari pihak keamanan.

Satuan Reserse Narkoba Polres Karanganyar bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karanganyar gencar merazia penjualan obat kategori prekursor di sejumlah toko modern, kemarin (13/10). Pengelola toko harus mengantongi izin dari toko obat setempat jika tetap ingin menjual jenis obat tersebut.

Obat kategori prekursor dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan narkotika dan psikotropika. Penjualanya tidak bisa dilakukan sembarangan. Buktinya, tim gabungan polisi dan dinas kesehatan menarik beberapa item obat dari toko modern dan kelontong. Obat yang diamankan tersebut bahkan sering dukonsumsi oleh masyarakat. Di antaranya obat batuk dan obat sakit kepala.

”Kami lakukan pembinaan kepada toko yang menjual obat – obatan. Jadi kalau belum ada izin dari toko obat di kabupaten, toko – toko ritel atau toko kelontong yang menjual obat itu harus mengembalikan ke distributornya. Mereka harus mendapatkan izin terlebih dahulu,” jelas Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karanganyar, Ita Kusumawati.

Tidak hanya obat – obatan, tim juga menemukan kemasan makanan dan minuman yang rusak. Atas temuan tersebut, petugas mengharapkan agar pemilik atau pengelola toko mengembalikan ke distributor.

”Kalau untuk makanan dan minuman itu nanti dikembalikan ke distributor, kami hanya melakukan pengecekan saja,” terangnya.

Salah seorang pemilik toko ritel di wilayah Karanganyar Kota, Dewi Subekti mengungkapkan, untuk menjual obat – obatan memang harus ada izin dari toko obat. Karena tidak sembarangnya menjualnya. Tapi untuk makanan, jika ditemukan adanya yang kadaluwarsa atau kemasan rusak, maka akan dikembalikan ke distributor.

”Kami hanya diberi pengetahuan kalau menjual obat memang harus mendapatkan izin dari toko obat setempat. Untuk mengantisipasi penggunaannya itu,” jelasnya. (rud/adi)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia