Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Jemparingan Kenakan Beskap hingga Baju Baduy

14 Oktober 2019, 16: 23: 52 WIB | editor : Perdana

WARISAN LELUHUR: Peserta ambil bagian dalam Gladen Ageng Jemparingan Sismadi Cup ke-XIX di lapangan Desa Krajan, Kecamatan Jatinom, Klaten, kemarin (13/10).

WARISAN LELUHUR: Peserta ambil bagian dalam Gladen Ageng Jemparingan Sismadi Cup ke-XIX di lapangan Desa Krajan, Kecamatan Jatinom, Klaten, kemarin (13/10). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Menyambut Yaa Qowiyyu di Kecamatan Jatinom, dimeriahkan Gladen Ageng Jemparingan Sismadi Cup ke-XIX. Berlangsung di Lapangan Desa Krajan, Jatinom, kemarin (13/10). Ajang ini diikuti 352 pepanah tradisional dari seluruh Indonesia. Menariknya, seluruh peserta wajib mengenakan baju tradisional daerah masing-masing.

Ketua Panitia Gladen Ageng Jemparingan Sismadi Cup ke-XIX Munawar mengatakan, panahan tradisional ini merupakan tradisi harus dilestarikan. Sekaligus menyambut bulan Sapar (penanggalan Jawa). Ajang ini sudah digelar sejak 2001 hingga sekarang. Didukung sepenuhnya oleh Sismadi Partodimulyo, tokoh masyarakat Jatinom yang memiliki kepedulian terhadap budaya.

“Pak Sismadi itu dokter. Tapi punya perhatian terhadap pelestarian budaya seperti panahan tradisional bersama lurah Bonyokan waktu itu. Hingga akhirnya digelar setiap tahunnya sejak 1990-an. Tetapi namanya belum pakai Sismadi. Baru pada 2001, kami gelar secara rutin dan pakai nama Sismadi sebagai apresiasi,” jelas Munawar.

Di awal-awal, ajang tersebut hanya diikuti pepanah lokal Klaten. Lalu berkembang dan diikuti pepanah tradisional dari Kota Solo dan Jogja. Hingga akhirnya, sekarang jumlah peserta membengkan jadi 300-an orang dari berbagai daerah di penjuru tanah air. Mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Banten, dan sebagainya.

“Tiap peserta diberi kesempatan melepaskan empat anak panah ke sasaran. Jika kena kepala warna merah, dapat poin 3. Jika kena badan warna putih, poinnya 1. Jarak sasaran dari 30 meter,” urainya.

Peserta yang memperoleh poin dengan nilai limit 18, mendapat hadiah utama berupa 1 unit sepeda motor. Sedangkan peserta dengan nilai limit 16 dapat lemari es. 

Juara 1 hingga 3 mendapat uang pembinaan Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta untuk kategori putra. Sedangkan kategori putri mendapat hadiah uang tunai Rp 500 ribu sampai Rp 1,25 Juta. Yayat, 61, peserta asal Tangerang Selatan, Banten mengaku hadir mengenakan baju tradisonal suku Baduy luar.

“Baru pertama ikut. Saya tidak mengejar kemenangan. Tetapi bisa bertemu dan silaturahmi dengan pepanah tradisional seluruh nusantara. Ini yang paling menyenang,” beber pria berprofesi pilot pesawat carter ini. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia