Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Warga Kesulitan Air, Belik Dibiarkan Mangkrak

14 Oktober 2019, 17: 48: 12 WIB | editor : Perdana

TAK TERAWAT: Kondisi Belik Tempuran di Dusun Sidokriyo, Desa Kerjolor, Kecamatan Ngadirojo.

TAK TERAWAT: Kondisi Belik Tempuran di Dusun Sidokriyo, Desa Kerjolor, Kecamatan Ngadirojo. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Sejumlah mata air di Wonogiri mengering dan sudah tidak dimanfaatkan oleh warga. Upaya konservasi harus dilakukan dengan melibatkan semua pihak. 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri Bambang Haryanto mengatakan, ada sejumlah mata air atau belik yang mati. Kerusakan lingkungan menjadi penyebabnya.

”Kita sudah gerakkan relawan untuk melakukan inventarisasi dan pendataan. Tapi belum semua melaporkan. Dari data sementara yang masuk ada beberapa yang mati,” kata Bambang Haryanto, kemarin (13/10).

Selain itu, sejumlah sumber air tidak dimanfaatkan oleh warga setempat. Sehingga, meski masih keluar air tapi tidak terawat, kotor dan tentunya kesehatan airnya dipertanyakan. Hampir satu desa dipastikan terdapat 1 sampai 2 sumber air atau mata air dengan debit air yang beragam. Mulai dari yang kecil rembesan atau yang besar. Sedangkan di Wonogiri sendiri terdiri dari 294 desa/kelurahan.

”Banyak, yang tidak dimanfaatkan karena masyarakat sudah ada aliran air yang lain,” katanya.

Dari pantauan, salah satu belik yang mati adalah Belik Condong di Dusun Sidokriyo, Desa Kerjolor, Kecamatan Ngadirojo. Belik tersebut lokasinya tepat di pinggir jalan Wonogiri-Ponorogo. Matinya mata air ini sudah terjadi beberapa tahun lalu sejak dua pohon besar di lokasi mata air beringin dan trembesi roboh.

”Dulu, Belik Condong menjadi andalan warga sekitar untuk mandi, mencuci dan lainnya. Tapi sekarang sudah tidak banyak digunakan. Tapi satu mata airnya sudah mati,” kata Nonis Murwanika Sari, warga setempat. 

Adapula Belik Tempuran yang lokasinya juga berada di pinggir jalan raya di Desa Kerjolor. Kondisinya jauh lebih mengenaskan. Bak air yang menampung air kotor oleh daun-daun kering. Bahkan, atap untuk menutup sumber air dari hujan roboh. ”Sejak ada pamsimas, PDAM dan warga bikin sumur sendiri sudah tidak dipakai,” katanya. (kwl/adi)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia