Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Ganjar Gas Pol Garap Sampah, Target Rumusan Kongres Dieksekusi 2020

14 Oktober 2019, 22: 41: 22 WIB | editor : Perdana

RAMAH-TAMAH: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berinteraksi dengan peserta Kongres Sampah di Desa Kesongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Semarang, Sabtu (12/10).

RAMAH-TAMAH: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berinteraksi dengan peserta Kongres Sampah di Desa Kesongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Semarang, Sabtu (12/10). (BAYU WICAKSONO/RADAR SOLO)

Share this      

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah membentuk tim kecil untuk membuat rumusan dari rekomendasi Kongres Sampah. Salah satunya pembentukan Satgas Sampah di seluruh desa. Ganjar menargetkan tahun depan rumusan tersebut langsung bisa dieksekusi.  

Kongres Sampah berlangsung Sabtu-Minggu (12-13/10). Mengeluarkan empat rekomendasi akhir. Yakni pembentukan Satgas Sampah di seluruh desa di Jateng, mencanangkan gerakan pemilahan sampah 3 Ng: ngelongi, nganggo, dan ngolah (mengurangi, memanfaatkan dan mengolah). Dan memberi insentif pada inovasi pengolahan serta pembentukan Dewan Konsorsium Sampah Jateng. 

“Saya lagi nyusun APBD, untuk kita rancang agar penanganan sampah bisa masuk. Terlebih kepala dinas LHK ditunjuk sebagai ketua Dewan Konsorsium Sampah yang juga melibatkan pengusaha, tokoh masyarakat, seniman, dan lainnya. Jadi secara kelembagaan ada. Ini yang akan kita jadikan acuan untuk mengeluarkan kebijakan. Jadi (Kongres Sampah) ini bukan sekadar kumpul-kumpul atau pertukaran wacana,” kata Ganjar, Senin (14/10).

Acuan kebijakan tersebut berupa rumusan yang saat ini tengah digarap tim kecil. Terdiri dari kalangan pemerintahan, akademisi, aktivis, serta inovator persampahan. Rumusan meliputi mana rekomendasi yang harus dibuat regulasi, mana yang perlu dukungan politik anggaran, dan mana yang jadi dorongan atau perintah terkait penanganan persampahan.

“Tim ini sudah bekerja. Kita siapkan percepatan tahun depan. Urusannya gampang. Ritmenya mengikuti politik anggaran. Sampai pertengahan November APBD akan diketok. Maka segera kita masukkan mana-mana negara yang mesti terlibat. Termasuk rangsangan dengan lomba. Lomba satgas, bank sampah, dan lainnya,” imbuhnya. 

Pembentukan Satgas Sampah, menurut Ganjar merupakan hal yang sangat mungkin. Terlebih sudah ada embrionya di Desa Kesongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Semarang. Tuan rumah Kongres Sampah. Namun Ganjar mengatakan, gerakan tersebut butuh waktu. 

“Kongres Sampah ini adalah titik bertemunya para inovator, kreator, dan pelaku yang masing-masing punya pengalaman baik untuk mengelola sampah. Ketika orang mudah marah soal sampah, sebenarnya mereka berimajinasi. Seolah-olah mengatakan ayo kita bereskan dan kerjakan. Tapi bagaimana mengerjakannya? Praktik di level desa itu berbeda, apalagi di perkampungan kota,” paparnya. 

Perbedaan cara itulah yang akan diterapkan Ganjar untuk mengatasi sampah di Jateng. Mengutip filosofi Jawa, deso mowo coro negoro mowo toto. Artinya setiap wilayah punya kearifan lokal masing-masing, maka negara yang harus memadukan. Cuma, lanjut Ganjar, ketika hal tersebut tidak terlalu efektif, bisa dilanjutkan dengan membuat aturan. Urutannya dari imbauan ke masyarakat kemudian dilahirkan regulasi. 

“Banyak orang tidak sabar sehingga menyampaikan bahwa ini harus cepat. Kemarin dapat cuitan dari Bu Susi. Bu Susi termasuk kategori orang tidak sabar. Karena apapun yang diomongkan dan digerakkan tidak terlembagakan dengan baik. Padahal ini mengubah perilaku. Karena deso mowo coro dan negoro mowo toto. Ada cara di setiap desa, itu filosofi yang mungkin banyak orang yang tidak menyadari. Ada lokalitas. Saya tidak suka menyeragamkan, tapi bagaimana di desa itu punya cara masing-masing,” bebernya. 

Adanya kelembagaan yang mengawasi sampah seperti Dewan Konsorsium Sampah yang telah dicanangkan dalam kongres, Ganjar berharap memperoleh data riil. Terkait persampahan dari dalam rumah hingga pengolahan. Kalau itu sudah berjalan, akan memudahkan pengelolaannya di tempat pembuangan akhir (TPA). Misalnya di Cilacap, Semarang, dan Solo. Tiga kota ini bisa dijadikan replikasi pengelolaan TPA di daerah lain.

“Kita ukur setahun nanti, ada perubahan di setiap area atau tidak? Nah, perguruan tinggi akan kita libatkan. Saya kepinginnya kalau dari (Kongres Sampah) ini kemudian dibuat banyak kebijakan dan bisa berjalan dengan baik. Kongres sekali itu cukup. Tapi rasa-rasanya akan ada lagi tahun depan untuk mengukur capaian Kongres Sampah perdana ini dalam setahun. Jika setelah itu sudah ada yang bisa diukur secara kuantitatif, maka kongres ini cukup dua kali. Selanjutnya aksi terus,” tandasnya.

Untuk membuat aksi tersebut, Ganjar mengajak masyarakat turut aktif dalam gerakan pemilahan sampah sejak dalam rumah. “Ayo buat komunitas di setiap daerahmu untuk mulai pemilahan sampah. Kemudian kita olah atau berikan ke pengelola yang punya cara pengolahan yang benar," ucapnya. (lhr/fer)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia