Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Solo Mime Society, Konsisten Ajari Anak Berkebutuhan Khusus lewat Seni

Mayoritas Anggota Tuna Rungu

15 Oktober 2019, 12: 49: 12 WIB | editor : Perdana

APIK: Aksi pantomim anak berkebutuhan khusus di CFD Jalan Slamet Riyadi Minggu lalu. 

APIK: Aksi pantomim anak berkebutuhan khusus di CFD Jalan Slamet Riyadi Minggu lalu.  (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk mengajari anak-anak berkebutuhan khusus dalam seni berpantomim. Lantas bagaimana bila para penderita tuna rungu ini beraksi di atas panggung menunjukkan kebolehan mereka berpantomim?

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

PENGUNJUNG Solo Car Free Day Jalan Slamet Riyadi Minggu lalu cukup terhibur dengan aksi kocak nan menggelitik dari sejumlah orang berpakaian unik. Kalau diperhatikan, masyarakat pun bisa menangkap alur dan pesan yang disampaikan dalam performing art pantomim di pinggir jalan itu. Mereka berasal dari Solo Mime Society. 

Berdiri sejak 13 Maret 2014 lalu, Solo Mime Society telah berubah menjadi sebuah wadah kreativitas bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Kota Bengawan. Sejatinya, komunitas ini terbuka bagi siapa saja, hanya saja di Solo memang anggotanya banyak yang spesial.

“Memang kalau untuk anggota di Solo ini banyak anggota yang tuna rungu. Kalau dihitung ada puluhan anggota  tuna rungu,” kata salah satu inisiator Solo Mime Society Rio Daniswara, 28.

Dia mengaku keterlibatan anak berkebutuhan khusus merupakan kejadian yang tidak sengaja. Dulu, dia dan tiga kawannya sepakat membentuk komunitas tersebut usai mengikuti workshop mime di Taman Budaya Jawa Tengah 2014 silam. Sejak itu mereka sepakat membentuk komunitas mime yang bisa diikuti oleh siapa saja yang mau belajar. 

“Kami pikir pantomim di Solo belum cukup populer. Makanya kami sepakat membentuk komunitas ini. Seiring berjalannya waktu anggotanya bukan hanya kawan-kawan dari dunia seni teater, tapi juga umum,” kata dia.

Performing art pinggir jalan rutin dia lakukan bersama ketiga kawannya. Dari situ Solo Mime Society mulai dikenal. Suatu ketika, dia didatangi oleh beberapa orang yang mengalami gangguan pendengaran. Dia dengan senang hati mempersilakan kawan-kawan barunya itu untuk belajar pantomim bersama. 

“Suatu ketika, setelah kami pentas di CFD ada beberapa orang yang tuna rungu datang dan pengin ikut kegiatan bareng. Kami pun terbuka dan mulai latihan  bersama. Lama kelamaan makin banyak anggota yang memiliki kekurangan dalam hal pendengaran. Tapi justru itulah perbedaan komunitas ini dengan komunitas lainnya,” beber Rio.

Meski sedikit sulit menyesuaikan di awal perkenalan, setelah melalui pendekatan yang tepat akhirnya bisa memperlancar komunikasi antarsesama anggota. Kuncinya adalah pendekatan personal. Sebab, masing-masing karakter anggota itu berbeda. Dia dan tiga kawannya yang lebih tua harus mau mendengar dan bertukar pikiran dalam menemukan konsep pemanggungan  yang paling pas. 

“Duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Ini kuncinya! Jadi kami memang menempatkan posisi sebagai teman bukan sebagai guru atau sedang menggurui,” jelas dia.

Dengan seperti itu, rasa percaya diri masing-masing anggota. Khususnya mereka yang berkebutuhan khusus bisa terwadahi dengan baik. “Mau tidak mau kami harus mulai belajar cara berkomunikasi dengan mereka. Jadi kami bukan hanya mengajari, namun juga belajar dari anggota yang berkebutuhan khusus seperti ini,” kata dia.

Seperti  Minggu (6/10) lalu. Performing art yang dikemas apik itu ternyata hanya disiapkan selama sepekan. Bahkan, di beberapa alur ceritanya dibuat 10 menit sebelum pentas. Kendati demikian aksi atraktif dengan gerakan tegas itu mampu memvisualkan seluruh jalan cerita. Alhasil pesan pun dapat ditangkap dengan mudah oleh masyarakat. “Seringnya dadakan. Tapi memang sudah klik antarsatu aktor dengan aktor lainnya. Karena rata-rata sudah setahun tergabung dalam komunitas,” jelas Rio.

Dalam setiap performing art, tema yang dibawakan pun sederhana dan kejadian yang mudah ditemukan di masyarakat. Tema satir yang edukatif merupakan kekuatan pentas pantomin tersebut. Salah satu yang paling mudah ditangkap adalah tema keselamatan berkendara kala salah seorang aktor memvisualkan gaya pengendara roda dua maupun mobil untuk patuh lalu lintas. Ada juga alur hiburan anak dengan konsep tiup balon hingga gerakan khas pentas pantomin seperti patung. 

“Kebetulan semua aktor yang tampil ini tadi adalah siswa inklusi dari SMA Alfirdaus dan SMKN 9 Surakarta. Kalau menurut saya karakter mereka ini malah lebih kuat dari pada kami pengajarnya,” ujar dia.

Lima tahun komunitas berdiri, Rio dan kawan-kawannya terus memperkaya diri dengan aktivitas masing-masing. Tentunya masih berada di bawah bendera komunitas yang sama. Hanya saja mereka boleh melakukan pendekatan masing-masing pada setiap anggota yang tergabung.

“Di komunitas ini memang kebanyakan tuna rungu. Tapi kalau yang di bawah teman saya juga ada yang tuna daksa dan beberapa ada yang down sindrome juga. Kami tidak membatasi siapa saja yang ingin terlibat. Sebab semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam berkesenian,” papar pria yang berperofesi sebagai guru ini.

Rio dan tiga kawan seperjuangannya pun kini bisa bernapas lega. Paling tidak apa yang mereka perjuangkan selama ini telah membuahkan hasil. Upaya mengembangkan seni pantomim bisa terus berjalan, sembari melakukan pendampingan pada anak berkebutuhan khusus. 

“Kadang kesempatan anak berkebutuhan khusus ini terbatas urusan ini dan itu. Dengan adanya komunitas ini mereka mendapat ruang berekspresi. Hasilnya, anak-anak ini makin percaya diri menampilkan kebolehan mereka, makin kreatif, dan tajam pikirannya. Orang tua pun akan bangga,” ujarnya. (*)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia